Seba, lensantt.com – gaji para pekerja penambak garam menjadi isu hangat menjelang Pemelihan Kepala Daerah (pilkada) Serentak Kabupaten Sabu Raijua.
Drs.Nikodemus Rihi Heke,M.Si Sebagai calon Petahana menjadi bulan-bulanan diserang oleh oknum tidak betanggung jawab.
Mirisnya, pelaku tersebut menggunakan akun palsu sehingga tidak bisa di percaya apa yang di sampaikan lewat status pribadi  maupun dalam kolom komentar.
Setelah media ini menelusuri, ada fakta berbeda yang terjadi dilapangan. Pasalnya, soal upah sebenarnya sudah menjadi kesepakatan antara pekerja dan pemrintah.
“Kalau soal upah kami sebenarnya ini sudah menjadi kesepakatan kami dengan pemerintah, bahawa upah kami dibayar setengah,” kata salah salah seorang pekerja yang tak mau namanya disebutkan kepada media ini Selasa, (15/09/2020).
Ia menegaskan, kesepakatan itu terjadi karena produksi beberapa waktu lalu belum maksimal. Sehingga, para pekerja Setuju dengan kesepakatan itu.
“Kami setuju karena kami tahu kondisi sebenarnya,” jelasnya.
Kendati kesepakatan hanya di bayar setengah. Tapi pemerintah, membayar penuh gaji penambak. “Walaupun dalam kesepakatan dibayar setengah tapi pemerintah membayar penuh,” ujarnya.
Sementara itu, Koordinator Tambak Garam Desa Lobodae Mikael Lado menegaskan, saat ini upah mereka berjalan normal.
“Upah kami dibayar normal pak,” tegasnya.
Bukan hanya itu, untuk produksi garam di tambak tersebut sangat baik. “Ama produksi tambak kami baik kok pak,” jelasnya.
Kalaupun ada petambak yang belum menerima sebagian upah itu karena produksi garam yang mereka kelola belum berjalan sesuai dengan harapan.
“Mereka belum dibayar karena mungkin produksi garam pada tambak mereka belum normal,” tegasnya. (Ikz)
Baca Juga :  Awang Notoprawiro Belum Pastikan Ikut Bertarung Di Pilgub NTT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here