Persamaan Jonas Salean Dan Jefri Riwu Kore

  • Whatsapp

Penulis :  Ian Haba Ora
 

 Secara politik, kontestasi pilkada serentak tahun 2017 di propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) meliputi Kota Kupang, Flores Timur, dan Lembata sudah dekat. Namun dari ketiga daerah tersebut, hemat penulis bahwa Kota Kupang merupakan geopolitik cukup “panas” jika ditinjau dari media sosial, cetak maupun elektronik, dan perang opini diantara kandidat maupun diantara tim sukses. Mungkin saja karena Kota Kupang adalah barometer NTT, dapat juga karena lebih muda akses pemberitaan oleh warga.

 

Tapi di lain pihak, banyak yang menyebutkan menarik diikuti karena akan bertarung kembali dua figur popular, yakni Jefri Riwu Kore akrab disapa Jeriko (Anggota DPR RI) dan Jonas Salean (Walikota Kupang). Menarik diikuti karena kedua kandidat ini sering tampil dan menjadi bahan bicara sosial media, atau juga masing-masing pihak memiliki peluang menang.

 

Jeriko dan Jonas merupakan kandidat fenomenal dengan rekam jejak di mata masyarakat yang dianggap baik. Oleh karena itu menarik untuk dipilah keduanya sesuai dengan informasi media, sehingga mungkin saja masyarakat dapat mengambil asumsi pandangan kedua kandidat tersebut. Tulisan ini merunut pada catatan media (online) terhadap sepak terjang kandidat dan bukan merupakan kesimpulan akhir dari suatu tulisan.

 

Figur Jefri Riwu Kore merupakan kandidat yang rela meninggalkan kemewahan jabatan sebagai anggota DPR RI untuk mengabdi jika dipercayakan sebagai Walikota Kupang. Dalam pilkada nanti, dirinya berpasangan dengan Herman Man yang juga merupakan petahana Wakil Walikota Kupang. Jefri-Herman menamakan diri mereka dengan nama FirMan-Mu yang diusung oleh Partai Demokrat dan PAN. Menurut informasi, kemungkinan disusul dukungan partai dari Gerindra, PPP, dan PKB. Sedangkan Jonas Salean merupakan calon petahana Walikota yang berpasangan dengan Niko Frans dengan nama paket Sahabat, didukung partai Golkar, Hanura, Nasdem, PKIP, dan Hanura.

 

Jefri Riwu Kore

Kandidat Jeriko tidak disangkali telah melakukan banyak hal untuk mendukung pembangunan sumberdaya manusia di NTT. Bahkan hal ini diakui oleh banyak pengamat dan politisi di ruang publik, seperti pada acara temu ilmiah para rektor universitas dan pimpinan fakultas se-Kota Kupang pada 11 Agustus 2015.

Nuroji Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Isman Yatun Politisi PDIP, Vena Melinda dan Niko Siahaan artis Indonesia, semuanya menyebut Jeriko sebagai pejuang NTT. Demikian juga Rektor Undana Prof. Fred Benu menyebut Jeriko memberi warna sebagai legislator yang benar-benar berjuang dan bekerja hanya untuk rakyat. Termasuk salah seorang warga Kota Kupang Yosephus Dara menyebut Jeriko adalah “dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat” (Zonalinenews.com, 11/8/2015). Mereka-mereka ini menyebut Jeriko sebagai pejuang pasti memiliki alasan kuat dan dapat dipertanggungjawabkan.

Lepas dari semua itu, jika dilihat dari peluang politik maka Jeriko hanya bisa berharap pada masyarakat semata. Dirinya tidak memiliki kemampuan dalam memobilasi para Pegawai Negeri Sipil maupun fasilitas negara seperti yang tampak dilakukan oleh pesaingnya (baca juga: http://www.zonalinenews.com/2016/08/menagih-janji-sekda-kota-kupang-netralitas-asn-dalam-pilkada/). Bahkan kandidat ini belum memiliki track record yang dianggap buruk untuk lebih mementingkan keluarga atau kolega terdekat (baca juga: http://kilastimor.com/sumbang-saran-keterpilihan-politik-tinjauan-dinamika-politik-kota-kupang/).

 

Kekuatan utama Jeriko tidak lepas dari pengorbananya untuk memperjuangkan jutaan anak NTT mendapatkan dana PIP yang selama ini dianggap terjadi diskriminan jika dilakukan pendataan oleh sekolah-sekolah. Bahkan dirinya rela dikatakan penipu karena berani meloloskan jutaan anak NTT mendapatkan besaran dana PIP bagi anak-anak miskin. Mungkin kita semua masih ingat juga saat pembahasan RUU KPK yang dinilai sarat kepentingan dan melemahkan lembaga pemberantas koruptor tersebut, hanya Jeriko seorang diri yang berani menentang arahan keseluruhan partai (kecuali Gerindra) termasuk partai Demokrat. Keputusannya untuk membela KPK pun membuatnya terpojok dan tersudut dari rekan sesama politisi. Tapi Jeriko tidak mau ambil pusing (baca juga: http://www.zonalinenews.com/2016/02/anggota-dpr-ri-ini-beda-dengan-fraksinya-yang-setuju-revisi-uu-kpk/ dan http://kilastimor.com/demokrat-susul-jeriko-tolak-revisi-uu-kpk/).

Kandidat inipun tidak ambil pusing saat memperjuangkan warga Kota Kupang untuk mendapatkan pelayanan publik dari PLN karena listrik sering padam. Saat Jonas Salean (Walikota Kupang) terlihat hanya berdiam diri (baca juga: http://www.zonalinenews.com/2015/11/walikota-kupang-jangan-hanya-bisa-duduk-diam-dan-nonton-ulah-pln/), Jeriko berusaha mencari solusi terbaik agar warga Kota Kupang terlayani pelayanan kelistrikan yang sebelumnya padam berjam-jam (baca juga: http://kilastimor.com/perjuangkan-listrik-di-kota-kupang-jeriko-temui-direktur-bisnis-pln/).

Jeriko pun sering mengalah dengan alasan untuk kepentingan siswa di Kota Kupang yang terhambat dalam mencairkan danak PIP. Bahkan Jeriko mempersilahkan memakai nama siapa saja untuk mengklaim perjuangan PIP oleh dirinya, terpenting adalah anak-anak siswa di Kota Kupang dapat segera mencairkan dana PIP untuk keperluan sekolah. Kandidat ini tidak pernah ngotot untuk berupaya mencari jati diri meskipun secara kewenangan dapat memaksa kepala daerah untuk mengikuti kehendaknya. Rendah hatinya pun masih dibilang sebagai ancaman. Memang tampak aneh negeri ini.

Terlepas dari kinerja kandidat ini dalam memperjuangkan kepentingan rakyat, Jeriko semasa kuliah telah menunjukkan prestasi dan kemampuan anak NTT cerdas dengan meraih penghargaan sebagai Mahasiswa Teladan Seluruh Indonesia tahun 1986. Bahkan kata teladan sebagai prestise tetap dijaga sampai kini dengan tiada sekalipun dirinya berhubungan dengan kasus korupsi. “Jangankan diperiksa KPK, disebut saja tidak”.

Jeriko juga pernah dilaporkan oleh Welly Dimu Djami Kepala Sekolah di Kota Kupang karena Jeriko dianggap telah menipu dana PIP untuk siswa SMA Sinar Teladan Kota Kupang. Tetapi berdasarkan hasil pemeriksaan kepolisian disebutkan bahwa pelapor telah ditersangkakan karena diduga siswa dari pelapor yang mendapatkan dana PIP ternyata sudah dicairkan oleh pelapor. Bahkan diberita yang lain, Walikota Kupang akan lapor KPK terkait PIP yang diperjuangkan anggota DPR RI, tapi sampai saat ini KPK tidak berbuat apa-apa karena tidak ada indikasi korupsi. Mungkin saja warga Kota Kupang banyak merasa kasihan terhadap kandidat Jeriko ini, “berbuat baik salah, apalagi jika tidak berbuat baik”, sungguh ironi juga negeri ini.

 

Beberapa literatur dan info yang penulis sajikan mungkin tidak sampai 5 persen dari keseluruhan pengorbanan dan perjuangan Jeriko untuk kepentingan anak NTT, dan penulis mengakui bahwa 95% persen kebijaksanaan Jeriko sebenarnya telah diketahui oleh warga Kota Kupang. Tetapi sekiranya ulasan ini dapat bermanfaat dalam mengetahui sepak terjang kandidat Jeriko.

 

Jonas Salean

Mungkin saja diantara kita banyak menyebut Kota Kupang telah maju dan berhasil di bawah kepemimpinan Jonas Salean sebagai Walikota. Bahkan diantara mereka, hampir semuanya sepakat keberhasilan ini tidak lepas dari pengaruh Wakil Walikota Kupang Hermanus Man yang segar ide kreatif. Penulis menganggap ini tidak bisa sangkali atas keberhasilan yang diraih Kota Kupang.

Peran Wakil Walikota terhadap Walikota efektif untuk meraih banyak prestasi seperti penghargaan dari Presiden sebagai kota layak anak selama tiga tahun berturut-turut, mendapat penghargaan atas upaya peningkatan kesehatan ibu dan anak, mendapat penghargaan dari Tata Nugraha dari Menteri Perhubungan RI. Selain itu mendapat penghargaan sebagai komisi penanggulangan AIDS kabupaten dan kota di Wilayah Sunda Kecil dari pemerintah pusat, mendapat penghargaan kategori sering tertinggi APBD Kabupaten Kota tahun 2015 dari Pemprov NTT, mendapat penghargaan dari Komnas HAM RI atas peran komitmen yang tinggi dalam melindungi hak atas kebebasan beragama dan berkeyakinan di Kota Kupang. Sementara penghargaan lain, penyerapan dana terbaik kedua desa mandiri anggur merah se-provinsi NTT, mendapat Setya Lencana kebagtian sosial dari presiden RI dalam program penanggulangan masyarakat miskin (dutanews.com, 26/4/2016).

Kota Kupang patut berbangga atas prestasi yang diraih Jonas Salean-Herman sebagai individu yang tidak bisa dilepas dari kepemimpinan. Tetapi saat dipilah diantara keduanya, publik tercengang dengan berita lensantt.com (Sabtu, 6/2/2016) yang menulis Walikota Kupang menyebut Bupati Kupang Ayub Titu Eki “Penipu” terkait persoalan PDAM Kupang. Penulis tidak mempermasalahkan kepemilikan PDAM, tetapi wajibnya diantara pemimpin daerah saling menunjukkan etikad baik dalam komunikasi. Tetapi sangat di luar dugaan, sebutan kata penipu tidak sekalipun ditanggapi Bupati Kupang mengikuti reaksi Walikota. Bahkan Bupati Kupang tampak bijaksana ibarat tunjukkan sifat sebagai orang tua Timor yang dikenal elegan dan dihormati. Kita mungkin tahu bersama bahwa Ayub Titu Eki (ATE) adalah sosok seorang ayah bagi orang Timor dan dirinya dianggap melambangkan simbol kedaulatan orang Timor.

Pantas saja jika yang bereaksi keras terhadap perkataan Walikota adalah orang-orang Timor seperti Ketua KNPI Kabupaten Kupang. Bahkan diantara penduduk Kabupaten Kupang ada yang menyebut Walikota sebagai anak durhaka (strikenews.com, 6/2/2015). Meskipun di sisi lain, orang Timor menunjukkan hormat mereka untuk memberi gelar orang Timor Meo Naek kepada Walikota, namun bukan berarti gelar tersebut harus disamakan silsilahnya seperti yang dimiliki oleh tokoh orang Timor Ayub Titu Eki.

Selain publik diguncang dengan sebutan Penipu pada Bupati Kupang, warga kemudian diguncang lagi dengan berita terhambatnya pencairan dana PIP jalur aspirasi Jeriko sebagai Anggota DPR karena diduga kepala sekolah diperintahkan oleh Walikota untuk tidak menerbitkan surat keterangan siswa sasaran PIP selain dari usulan sekolah. Bahkan Mendikbud pun bereaksi keras dengan menyurati para kepala dinas dan kepala sekolah untuk membantu dalam pencairan dana PIP dari jalur aspirasi. Tetapi itu pun dianggap sulit untuk dilakukan. Demikian juga beberapa anggota DPRD Kota setelah menemui Kemendikbud menyatakan sah yang diperjuangkan Jeriko tetapi dianggap belum dapat membantu.

Memang diakui selain dua hal di atas, beragam persoalan yang belum ditulis dalam opini ini. Meskipun demikian diharapkan tulisan ini bisa mengapresiasi pendapat agar Kota Kupang masa akhir kepemimpinan periode Walikota dapat diselesaikan dengan baik. Lepas dari konteks ini, biarlah masyarakat saja yang dapat menilainya.

Penutup

Jefri Riwu Kore-Herman Man dan Jonas Salean-Niko Frans merupakan kandidat yang sama-sama memiliki peluang menang dalam kontestasi politik pilkada Kota Kupang pada 15 Februari 2017 nanti. Pilihannya ada pada masyarakat Kota Kupang untuk menentukan pemimpinnya. Meskipun banyak yang menganggap Jeriko adalah pejuang dan sering menjadi korban, tetapi ini bukan menjadi alasan untuk memilih Jeriko. Demikian juga meskipun Walikota Jonas Salean pernah menyebut Bupati Kupang Ayub Titu Eki (tokoh orang Timor) dengan kata penipu dan juga banyak siswa penerima PIP yang tidak dapat mencairkan dana PIP, bukan berarti menjadi alasan kuat untuk tidak memilih Jonas Salean sebagai Walikota Kupang periode 2017 nanti.

Komentar Anda?

Related posts