Senator Rachel Siewart Akan Diperjuangkan Kompensasi Untuk Korban Montara

  • Whatsapp

Kota Kupang, lensantt – Senator Parliement Hous of Canbera, Australia Rachel Siewart, berjanji akan memperjuangkan sejumlah kompensasi bagi masyarakat Nelayan di Nusa Tenggara Timur (NTT), Indonesia,  sebagai korban tumpahan minyak Montara yang terjadi pada  21 Agustus 2009 silam. Seperti disaksikan SP di Desa Tablolong, Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten Kupang, Minggu, (16/2) malam, Senator Rachel Siewart dari Parliement House of Canberra, asal Australia,  Anggota Dewan Energi Nasional Mukhtasor, Pengacara Yayasan Peduli Timor Barat (YPTB) asal Darwin Greg Phelps, didampingi Bupati Kupang, Ayub Titu Eki, Ketua YPTB, Ferdi Tanone, Ketua DPRD Kabupaten Kupang, sejumlah SKPD kabupaten Kupang serta Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi NTT, Abraham  Maulaka.

Dalam sambutan Senator Rachel Siewart dari Parliement House of Canberra, asal Australia,  Anggota Dewan Energi Nasional Mukhtasor itu, mengatakan, “Saya datang ke sini, untuk mendapatkan sejumlah masukan terkait akibat yang dialami masyarakat  NTT dari dekat petaka minyak Montara Australia itu,” kata Senator Parliement Hous of Canbera, Australia Rachel Siewart, di Desa Tablolong, Kabupaten Kupang, NTT.Senator Rachel Siewart, berada di Desa Tablolong, Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten Kupang, NTT, Indonesia, untuk melihat dari dekat akibat yang dialami warga pesisir desa tersebut, dari akibat muntahan minyak Montara milik PTTEP di Australia.Senator Rachel mengaku, tragedi ledaknya minyak Montara tersebut Pemerintah Australia sebelumnya, tidak diakui. Namun upaya advokasi dan perjuangan terus dilakukan, untuk kepentingan pengakuan kejadian itu dan pemberian kompensasi kepada masyarakat di NTT, Indonesia sebagai negara yang  berhimpit langsung dengan laut Negara Australia, yang menjadi korban dampak dari pencemaran laut itu.

“Kami terus berjuang dengan melakukan survey dan penelitian terhadap kejadian tersebut. Serta melihat dari. dekat korban baik kerusakan lingkungan hidup termasuk penyakit yang dialami masyarakat di wilayah NTT, sesuai hasil laboratorium di Australia,” kata Rachel.Dia berharap, semua akibat yang dialami warga nelayan di NTT, bisa disampaikan secara benar dan akurat, sehingga bisa dilanjutkan dalam perjuangan di Senat dan kepada perusahaan minyak Montara.

Selain itu, masyarakat Australia, juga akan diberikan pengalaman ini, agar bisa bersama-sama berjuang kepada Pemerintah Australia, untuk kelanjutan pemberian kompensasi. “Kita akan terus berjuang, termasuk melalui media di Australia, untuk kepentingan harapan masyarakat di daerah ini NTT yang terkena dampak secara langsung,” katanya.Ketua Yayasan Peduli Timor Barat (YPTB) Ferdy Tanoni, mengatakan, perjuangan bersama Senator Rachel, sudah dilakukan sejak 2009 silam. Perjuangan itu, terus dilakukan dengan melibatkan sejumlah komponen dua negara yaitu Australia dan Indonesia, untuk kepedulian tragedi ini.

Kami bersama-sama Kuasa Hukum asal Australia Greg Phelps, perjuangan ini dilakukan dan akan terus dilakukan hingga berhasil. “Perusahaan minyak Montara harus bertanggung jawab atas masalah tersebut,” kata Ferdi Tanoni.Bupati Kupang,  Ayub Titu Eki, memberikan apresiasi kepada senator dan kuasa hukum YPTB, dalam memperjuangkan masyarakat korban, muntahan minyak Montana itu.Ayub Titu Eki, berharap, agar hasil perjuangan berupa kompensasi yang dilakukan agar langsung diserahkan kepada masyarakat nelayan,  jangan lagi dipolitisasi dengan politik.

Semuanya harus transparan dengan masyarakat yang saat ini menjadi miskin karena usaha mereka seperti petani rumput laut, nelayan selalu gagal. Kepala Dinas Perikanan Provinsi NTT, Abraham Maulaka, mengaku, akibat muntahan ladang minyak Montara, telah berakibat kepada menurunnya produktivitas tangkapan nelayan di Nusa Tenggara Timur.Dia menyebutkan, produksi rumput laut  nelayan di Kabupaten Sabu dan Kabupaten Kupang, pada 2009 mencapai 6.000 ton per tahun atau mencapai Rp19 miliar/tahun.

Namun demikian, hasil itu mulai berkurang hingga hanya berproduksi 5.800 ton/tahun, atau berkurang sekitar 8.00 ton/tahun pada 2010, dan belanjut hingga 2013. Hal yang sama juga terjadi pada produksi tangkapan ikan, nelayan. Pada 2009, tangkapan nelayan mencapai 117.189 ton. Hasil itu terus menurun, hanya tersisa 92.261 ton/tahun pada 2010. “Dan pada 2013 tangkapan hanya mencapai 72.623 ton saja,” kata Abraham pencemaran laut di NTT.Dengan demikian, kata Abraham, perjuangan untuk pemberian kompensasi harus dilakukan, agar menaikan kembali kepercayaan masyarakat nelayan dalam melakukan aktivitas budidaya rumput laut dan tangkapan ikan, demi peningkatan ekonomi kesejahteraan masyarakat nelayan di NTT, katanya.Kuasa hukum, Yayasan Peduli Timor Barat (YPTB) asal Darwin Greg Phelps, meminta pemerintah Indonesia di Jakarta, harus mendukung perjuangan tersebut.

Jangan melihat kejadian-kejadian kemarin yang sebagai hambatan dalam perjuangan serta bantuan kemanusiaan di wilayah NTT sebagai penerima dampak tumpahan minyak Montara.Greg Phelps, mengatakan, untuk masalah itu, jangan dikaitkan dengan politik. Namun kami meminta dukungan dari Pemerintah di Jakarta untuk memberikan kami kesempatan bekerja perjuangkan hak masyarakat NTT yang menjadi korban, katanya.Masyarakat petani rumput laut, Gustaf Lay, memberikan kesaksiannya, dengan menghadirkan sejumlah korban, seperti gatal pada kulit, luka yang dialami petani rumput laut serta penyakit aneh yang diderita oleh para nelayan di daerah itu.“Kami minta perusahan itu harus bertanggung jawab dan dihukum serta mengganti kerugian yang kami alami hampir lima tahun ini,” kata Lay. (Anto)

Komentar Anda?

Related posts