More
    BerandaNTTSekolah Doktor untuk Memotivasi Anak Timor: Sam Oematan dan Keyakinan bahwa Pendidikan...

    Sekolah Doktor untuk Memotivasi Anak Timor: Sam Oematan dan Keyakinan bahwa Pendidikan adalah Harta yang Tak Akan Habis

    Kupang, LENSANTT — Ada mimpi-mimpi yang lahir di kota besar, tumbuh di ruang kelas yang megah, dan mendapat jalan yang sudah terbuka. Namun, ada pula mimpi yang lahir jauh dari kemewahan. Dari kampung-kampung di Timor. Dari keluarga yang mengenal kerasnya hidup. Dari kandang ternak, kebun, dan keringat orang tua yang perlahan dikumpulkan untuk satu tujuan: menyekolahkan anak.

    Salah satu mimpi itu kini sedang berjalan di Surabaya.

    Namanya Sam Oematan, anak muda asal Timor yang pada usia 24 tahun tengah menempuh pendidikan Strata Tiga (S3) di Universitas Airlangga (Unair), Surabaya, pada Program Doktor Hukum dan Pembangunan.

    Bagi Sam, perjuangan di bangku doktoral bukan semata tentang gelar akademik. Lebih dari itu, ada pesan yang ingin ia bawa pulang ke tanah kelahirannya: bahwa anak-anak Timor juga bisa bermimpi tinggi, berjuang jauh, dan menembus batas yang selama ini mungkin dianggap mustahil.

    “Saya ingin memotivasi anak-anak muda Timor yang punya spirit untuk melanjutkan pendidikan, dari S1, S2 sampai S3. Bahwa ada juga anak muda asli Timor yang sedang berjuang di bangku pendidikan doktoral di usia yang masih muda,” ujarnya.

    Dalam pandangan Sam, pendidikan bukanlah sesuatu yang selesai ketika seseorang mendapatkan ijazah. Pendidikan adalah perjalanan panjang untuk mengubah cara manusia melihat dirinya, melihat dunia, dan menentukan ke mana hidup hendak dibawa.

    “Pendidikan adalah harta yang tidak akan habis,” kata Sam.

    Sebab tanah bisa dijual. Ternak bisa mati. Uang bisa habis dalam semalam. Bahkan jabatan bisa datang dan pergi. Namun, pengetahuan yang telah menjadi bagian dari diri seseorang akan tetap tinggal.

    Pendidikan, bagi Sam, adalah warisan yang tidak mudah dicuri.

    Dari Kandang Ternak Menuju Ruang Kuliah

    Di banyak kampung di Timor, ternak bukan sekadar hewan peliharaan. Ia adalah tabungan hidup. Babi, sapi, dan hewan ternak lainnya sering menjadi jawaban ketika keluarga membutuhkan biaya besar.

    Namun, Sam melihat ada sebuah pilihan penting yang perlu dipikirkan oleh generasi dan para orang tua hari ini.

    Ternak memang memiliki nilai ekonomi. Ia dapat dijual untuk kebutuhan keluarga, termasuk untuk memenuhi tuntutan adat dan budaya. Dan adat, tentu saja, adalah bagian yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan masyarakat Timor.

    Tetapi Sam mengajak masyarakat untuk melihat kemungkinan lain.

    Bagaimana jika sebagian hasil dari ternak itu juga diarahkan untuk membangun pendidikan anak?

    Baginya, seekor babi yang dipelihara bertahun-tahun bukan hanya bisa berakhir di sebuah pesta atau acara adat. Ia juga bisa menjelma menjadi uang pendaftaran kuliah, biaya kos, buku, bahkan menjadi jalan yang mengantarkan seorang anak dari kampung menuju universitas.

    “Di keluarga kami, biaya pendidikan juga berasal dari hasil beternak. Adik saya juga bisa menempuh pendidikan hingga profesi dokter. Artinya, beternak itu bukan hanya untuk kebutuhan sesaat, tetapi bisa menjadi jalan untuk membiayai pendidikan anak,” ungkapnya.

    Di situlah, menurut Sam, perubahan cara pandang menjadi penting.Bukan berarti meninggalkan budaya. Bukan pula menghapus adat istiadat. Tetapi setiap keluarga perlu mulai bertanya: apakah harta yang kita kumpulkan hari ini juga sedang kita investasikan untuk masa depan anak-anak kita?

    Sebab pendidikan tidak selalu membutuhkan kekayaan yang besar. Kadang-kadang, ia hanya membutuhkan keberanian sebuah keluarga untuk memilih masa depan.

    Orang Timur Juga Bisa

    Masih ada anak-anak muda di berbagai pelosok Timor yang mungkin merasa bahwa universitas besar, pendidikan magister, bahkan sekolah doktoral adalah sesuatu yang terlalu jauh dari kehidupan mereka.

    Mereka mungkin melihat jarak antara kampung dan kampus sebagai sebuah tembok.

    Padahal, menurut Sam, jarak itu bisa ditempuh.

    Pelan-pelan.Satu langkah.Satu semester.Satu perjuangan.Dari S1 menuju S2. Dari S2 menuju S3.

    “Orang Timur juga bisa menggapai mimpi dan masa depan. Jangan pernah membatasi diri hanya karena kita berasal dari kampung atau dari daerah. Yang menentukan bukan dari mana kita berasal, tetapi sejauh mana kita mau berjuang,” pesannya.

    Di usia 24 tahun, perjalanan Sam di bangku S3 menjadi simbol bahwa usia muda bukan alasan untuk menunda mimpi.

    Masa muda bukan hanya waktu untuk mencari kesenangan, tetapi juga kesempatan untuk membangun fondasi masa depan.

    Sebab mimpi tidak selalu menunggu seseorang menjadi tua untuk dimulai.

    Kadang, mimpi hanya menunggu keberanian.

    Pendidikan Mengubah Cara Berpikir

    Bagi Sam, manfaat terbesar dari pendidikan bukan hanya pekerjaan atau gelar yang ditulis di belakang nama.

    Pendidikan, katanya, pertama-tama mengubah pola pikir.

    Ketika seseorang belajar, ia mulai memahami bahwa dunia jauh lebih luas daripada apa yang selama ini dilihat dari kampungnya. Ia mulai mengenal banyak kemungkinan. Ia belajar berpikir kritis, membangun argumentasi, dan memahami bahwa hidup selalu menyediakan lebih dari satu jalan.

    Sekolah mungkin tidak langsung membuat seseorang kaya.

    Namun, pendidikan dapat memberikan manusia kemampuan untuk melihat peluang yang sebelumnya tidak pernah ia lihat.

    “Sekolah itu mengubah pola pikir kita. Sekolah mengubah banyak hal dalam hidup. Ketika kita memiliki pendidikan dan berani menggapai mimpi, maka pendidikan itu bisa menjadi kunci untuk membuka masa depan,” kata Sam.

    Pesan itu sederhana, tetapi mungkin justru karena kesederhanaannya, ia menjadi penting.

    Bahwa masa depan tidak dibangun dalam satu malam.

    Ia dibangun dari keputusan-keputusan kecil yang terus diulang: memilih belajar ketika ada alasan untuk menyerah, memilih melanjutkan pendidikan ketika keadaan ekonomi terasa berat, dan memilih percaya ketika lingkungan mengatakan bahwa mimpi itu terlalu tinggi.

    Untuk Generasi Muda Timor

    Sam Oematan tidak sedang mengatakan bahwa semua anak muda harus menjadi doktor.

    Tidak semua orang harus berjalan di jalan yang sama.

    Ada yang menjadi pengusaha. Ada yang menjadi petani. Ada yang menjadi peternak. Ada yang menjadi pekerja, profesional, seniman, maupun pelayan masyarakat.

    Namun, pesan yang ingin disampaikannya adalah bahwa pendidikan harus tetap menjadi salah satu jalan yang terbuka bagi siapa saja.

    Tidak boleh ada anak muda yang berhenti bermimpi hanya karena lahir di kampung.

    Tidak boleh ada anak muda yang merasa pendidikan tinggi hanya milik mereka yang berasal dari keluarga berada.

    Sebab sejarah selalu membuktikan, banyak orang besar lahir dari keadaan yang sederhana.

    Dari rumah-rumah kecil.

    Dari orang tua yang bekerja keras.

    Dari hasil kebun.

    Dari kandang ternak.

    Dari uang yang dikumpulkan sedikit demi sedikit.

    Dan mungkin, dari situlah lahir satu pesan untuk generasi muda Timor hari ini:

    Jangan malu berasal dari kampung. Jangan takut bermimpi tentang dunia.

    Karena kampung bukan batas.Ia bisa menjadi titik awal.Dan pendidikan, seperti yang diyakini Sam Oematan, adalah salah satu kendaraan untuk membawa anak-anak Timor melampaui batas-batas yang selama ini mereka bayangkan sendiri.

    Sebab pada akhirnya, harta bisa habis.Ternak bisa dijual.Uang bisa berkurang.

    Tetapi ilmu yang diperoleh dari perjuangan akan terus hidup, berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya.

    Dan mungkin, pendidikan adalah salah satu bentuk kekayaan yang paling sederhana untuk diwariskan, tetapi paling sulit untuk dihabiskan.(Ikz)

    Komentar Anda?

    Must Read

    spot_img
    error: Tidak boleh di Copas