Beranda Kota Kupang 1.095 Hari Dalam Genggaman FirmanMu

1.095 Hari Dalam Genggaman FirmanMu

Kupang,lensantt.com – 20 Agustus 2017 lalu dr. Jefriston R Riwu Kore, SE. MM dan Dr. Hermanus Man yang dikenal paket FirmanMu mengawali kepemimpinan mereka. Jika dihitung sampai dengan Agustus 2020 maka sudah 1.095 Hari Duet Jefry-Herman menahkodai Kota Kupang.

Banyak tantangan dilalui kedua figur ini saat “Menggenggam” Kota Kasih Ini. Hujatan, cacian datang silih berganti. Bahkan, sebagian warga mengangap paket FirmanMU tidak berhasil memimpin Kota Kupang.

Padahal, sebagai pemimpin baru tentunya harus membenahi semua aspek. Baik itu anggaran maupun birokrasi. “Diserang”  habis-habisan, di tahun pertama menjadi pemicu semangat bagi Jefry Riwu Kore dan Hermanus Man.

 

Perubahan Di Tahun Kedua

Perubahan mulai dirasakan warga, ditahun ke-2 ketika ribuan lampu jalan terpasang di ruas jalan utama dan dalam gang disetiap kelurahan. Alhasil, Kota Kupang terang-benderang hingga ke pelosok kota seperti, Keluarahan di Fatukoa Kelurahan Maulafa

Bukan hanya itu, wajah kota pun berubah drastis. Lampu hias terpasang di sepanjang protokol menambah indahnya Kota Kupang sebagai Ibukota provinsi NTT.

Harus diakui, Keindahan kota ini, tak terlepas dari buah tangan  FirmanMU. Kota yang dulunya gelap gulita kini terang benderang.

 

 

 

 

Tampak Samping patung sonbai setelah direnovasi

Tak bisa dielakan, keindahan taman yang ada dikota ini, pun menjadi objek wisata tersediri bagi warga Kota kupang. Sebagai Barometer provinsi NTT, Memang kota kupang layak ditata sehingga para pengunjung bisa tahu benar-benar kota kupang layak menjadi ibu kota provinsi.

Bukan hanya itu, lampu jalan yang bertebatan hampir seantero kota membuat warga kota kupang tak lagi takut beraktivitas di malam hari. Ketika Kota Kupang menjadi terang, dengan sendirinya kejahatan di jalan mulai berkurang secara perlahan. Pria berdarah Sabu ini, pada sebuah kesempatan menyampaikan, kalau Kota kupang wajiib ditata.” Kita wajib tata kota kupang ini, Kupang barometer provinsi NTT, ” kata dia.

Penataan Wajah Kota Kupang,  ini terus dilanjutkan di beberapa titik. Diantaranya,  Taman Patung Sonbai sebagai monumen pahlawan kebanggaan Kota Kupang, Taman TaGePe sebagai taman literasi kawula muda dan Taman Adipura dekat Bandara El Tari, sehingga suasana perkotaan modern telah dirasakan semenjak orang memasuki wilayah Kota Kupang dari Bandara El Tari.

Adapula Taman Inaboi yang sudah puluhan tahun tidak terurus, terlihat dari patung sebelumnya yang sudah rusak dan sasando yang tidak lagi kelihatan, kini menjadi ikon Kota Kupang yang tertata dengan penempatan patung wanita cantik yang memegang alat musik khas Rote, Sasando, “monumen prestisius ini menunjukan bahwa alat musik khas Rote yang sudah mendunia tersebut menjadi kebanggaan masyarakat Kota Kupang,” ujar Dr. Jefri Riwu Kore.

Baca Juga :  Walikota Minta Tim Paskibraka Kota Kupang Jadi Teladan

 

 

 

 

 

 

Tampak depan Patung Ina Boi

Mengenai Taman Ina Boi sendiri, dibangun demi memperindah alun-alun kota yang merupakan konsep lama sejak kepemimpinan Bapak Daniel Adoe dan Bapak Daniel Hurek, “Penataan RTH Taman Inaboi sebenarnya sudah out of date, tetapi kita terikat karena (desainnya) sudah dibayar (pemerintahan) sebelumnya, sehingga kita melanjutkan pengerjaannya agar tidak terjadi kerugian negara, kami menatanya dengan menambah pohon-pohon sekelilingnya itu dan juga menambah penerangan/lampu-lampu hiasnya,” jelas Dr. Jefry Riwu Kore.

Sedangkan, Taman Patung Sonbai adalah ikon yang menampilkan seorang pahlawan kebanggan masyarakat NTT dari suku Timor, sebelumnya terlihat tidak terurus selama bertahun-tahun, “Monumen peringatan kepahlawanan kebanggaan masyarakat harus ditata dan ditempatkan pada posisi yang sebenarnya, agar filosofi perjuangan Sonbai tidak asing bagi generasi muda kita. Penataan lampu dibuat sedemikian rupa dari ukuran yang kecil ke ukuran yang besar, menceritakan arti perjuangan Sonbai dari hal-hal kecil, sedikit demi sedikit sampai besar dan menjadi seorang Pahlawan,” jelas Walikota Kupang yang menjabat sejak Agustus 2017 itu.

Baca Juga :  Dulu Polemik, Kini Bundran PU Jadi Berkat Untuk PKL

 Patung Tirosa Jadi Ladang Berkat

Gebrakan FirmanMu patut di acungkan jempol karena tempat-tempat strategis seperti, patung Tirosa menjadi tempat Rejeki bagi para Pedagang Kaki Lima (PKL).Bundaran Tirosa pun menjadi Berkat tersendiri bagi para PKL. Bagaimana tidak, semenjak menjadi tempat tongkrongan sebagian PKL pun mengais rejeki di tempat tersebut.

Alhasil pendapatann PKL yang berjualan di bundaran PU ini, mendapat penghasilan lumayan.Seperti pengakuan,  Nursi Yohana Ndun Dethan yang menjual kopi pada media ini beberapa waktu  lalu menjelasakan, semenjak berjualan ditempat itu ia bisa meraup keuntungan 100-150 ribu/per hari.“Semenjak tempat ini ramai saya dapat keuntungan lumayan,” ujarnya.

Ia mengapresiasi, langkah pemerintah kota kupang karena merenovasi dan menghias tempat- tempat strategis sehingga menjadi tempat refreding di malam hari bagi warga kota.

Hal yang sama disampaikan Mikael, yang menawarkan jasa Odong-Odong untuk anak-anak.semenjak parkir di bundaran PU penghasilannya meningkat drastis.”Dulu saya paling 50 ribu dalam sehari tapi disini bisa dapat sampai 100 bahkan lebih,” ungkapnya.

Ia juga menyarankan agar pemkot kupang menata para PKL yang berjualan di lokasi agar lebih rapi. ” saya usul pemkot atur kami yang berjualan agar lebih rapi dan tertata,” imbuhnya.

Bedah Rumah Yang Mengharukan

Akhir-akhir ini FirmanMu meluncurkan program Bedah Rumah bagi Janda, Duda dan Keluarga tak mampu yang menempati rumah tak layak huni.Luar biasanya, saat sementara dibedah penghuni rumah beristerahat di Hiotel yang disediakan Pemkot Kupang.

Ina Djara janda asal di Kelurahan Fontein, juga mendapat bagian rumahnya dibedah. Rumah darurat yang ditinggali oleh Ina Djara (84 tahun) beserta 1 orang anak perempuan dan 1 orang cucu perempuan tersebut dalam kondisi yang sangat memprihatikan.

Baca Juga :  Tips Menyembuhkan Patah Hati Paling Ampuh

Rumah berwarna biru tersebut didirikan seadanya dengan bahan bebak dan seng, lantainya sebagian cor semen kasar dan sebagian hanya berlantai tanah. Interior rumah tampak sangat minim perabotan.

Ina Djara bahkan tidak memiliki dipan atau tempat tidur, sehari-hari ia hanya tidur di selembar kasur yang langsung diletakkan diatas lantai tanah.

Selain itu, Viktor Kamaleng  Fatufeto, Kecamatan Alak juga mendapat kesempatan yang sama. Seperti biasa, Selama 14 hari pengerjaan rumah, Viktor bersama istri dan ketiga anaknya tinggal sementara di Hotel Maya.

Kejadian menharukan terjadi saat Dr. Jefirstson R. Riwu Kore, M.M., M.H. yang didampingi Ketua TP PKK Kota Kupang, Hilda Riwu Kore – Manafe mengantar Viktor Kamaleng dan istrinya Linda Kamaleng-Solukh kembali ke rumahnya yang telah selesai dibedah di RT 22, Kelurahan Fatufeto, Jumat (17/7)

 

 

 

 

Tangisan haru dan tepuk tangan warga menyahut Jefry Riwu Kore dan tim.

Tangisan haru dan tepuk tangan menyambut Walikota Kupang Jefry Riwu Kore dan tim saat mengantar penerima Bedah Rumah. Selain itu, sejumlah tetangga dan keluarga Viktor menyambut gembira kepulangan Viktor dan keluarga, ada yang bertepuk tangan, ada pula yang berderai air mata karena terharu sembari menyampaikan terima kasih kepada Wali Kota Kupang.

Hal yang sama juga dialami Luter Masu, warga RT 18 RW 07 Kelurahan Manulai II Kecamatan Alak yang mendapatkan bantuan bedah rumah. Wali Kota Kupang juga berkesempatan menjemput dan mengantar pulang Luter Masu dan keluarga menempati rumah barunya yang terletak di RT 18, RW 07 Kelurahan Manulai II, Kecamatan Alak. Rut Baitanu, istri dari Luter Masu menangis terharu sembari spontan memeluk Ny. Hilda Manafe. Dirinya mengaku terharu bahagia ketika gubuk reot berlapis bebak yang biasa ia tempati bersama keluarga tampak menghilang dan berubah menjadi bangunan kokoh berdinding batako.

Sambil berlinang air mata, Rut Baitanu tak hentinya mengucapkan terimakasih kepada Pemerintah Kota Kupang. Kedatangan keluarganya bersama Wali Kota beserta Ibu Hilda disambut natoni oleh tokoh adat dan keluarganya yang hadir. Selama 14 hari pengerjaan bedah rumah, Rut bersama keluarganya dibawa untuk ditampung sementara oleh Wali Kota Kupang di rumah jabatan.

Baca Juga :  Walikota Kupang : Kalau Marah Pasti Ada Alasannnya

Selama 3 tahun memimpin, banyak karya yang sudah dibuat Putera asal Sabu Dan Manggarai ini. Tentunya masyarakat Kota Kupang masih menanti ide-ide brilian dari FirmanMu. Sehingga Kota Kupang menuju ke arah yang lebih baik.

Penulis : Isak Kaesmetan.

 

 

 

Izack Kaesmetan
Owner & Jurnalist LENSANTT.COM, Anggota DPD HPSI NTT.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Must Read

Nomor 1 Untuk Helama Tona Ie, Rihi Heke : Mari BerSATU Untuk Sabu Raijua

Seba,lensantt.com- KPU Sabu Raijua telah melakukan penarikan nomor urut pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten tersebut. Hasilnya paket HELAMA TONA IE (Drs.Nikodemus N Rihi...

1 Pasien  Positif Covid-19 Di TTS Dalam Kondisi Buruk, Jubir : Saat Ke Soe Pasien Menumpang Ojek

Soe, lensantt.com-  pasien covit 19 di kabupaten TTS, satu orang pasien asal desa nulle kecamatan amanuban barat kabupaten TTS,  Berinisial IP diketahui dalam kondisi...

Kisah Johanis Landu Praing Yang Bergelut Dari Sopir Hingga Jadi Dirum Bank NTT

Kupang,lensantt.com - Nasib orang tidak ada yang tahu. Memang benar jika perjuangan dengan ketulusan maka akan meraih hasil memuaskan. Hal itu juga di alami Oleh Direktur...

Melirik Sosok Johanis Landu Umbu Praing Pria Rendah Hati Dengan Komitmen Untuk Bank NTT

Kupang,lensantt.com -  Begitu banyak Bankir yang ada di provinsi NTT. Namun ada sosok humanis dan rendah hati. Dialah Direktur Umum (Dirum) Bank NTT Johanis  Landu...

Partai Hanura TTS  Bedah Rumah  Janda Rut Tafui 

Soe, lensantt.com- Proses bedah rumah milik wanita Paruh Baya Rut Tafui warga Desa Noenbila Keluhanahan Nonohonis kab TTS yang dilakukan oleh Fraksi Hanura melalui...