Menia,lensantt.com -Bupati Sabu Raijua, Marthen Dira Tome melakukan panen padi yang menggunakan sistem Intensifikasi Padi Aerob Terkendali Berbasis Organik (IPAT-BO) di Embung Maarepunoa Kecamatan Lia, Minggu, (24/7/2016). Dengan sistem IPAD-BO petani bisa menghemat air tapi hasil produksi gabah meningkat dari biasanya.

“Sudah saatnya kita melakukan restorasi pertanian di daerah ini lewat berbagai teknologi termasuk IPAD-BO. Kita tidak bisa pungkiri bahwa sistem pertanian kita yang tradisional tidak bisa meningkatkan hasil produksi,” kata Dira Tome disela-sela panen bersama petani.

Dira Tome berharap dengan adanya penemuan teknologi baru terutama dalam pertanian bisa diterapkan secara baik kepada masyarakat sehingga bisa meningkatkan hasil produksi serta menambah pengetahuan petani bagimana bertani secara baik dan benar.

“Perilaku petani di sabu yang seperti Tomas artinya mereka melihat dulu baru percaya kiranya bisa dirubah dengan cara memberi contoh konkrit kepada masyarakat. Ada banyak hal yang sudah dilakukan oleh pemerintah dalam rangka meningkatkan hasil produksi petani,” tambahnya.

Dira Tome mengatakan, bicara masalah pangan adalah bicara soal masa depan sebuah generasi bangsa. Tanpa pangan yang cukup maka tidak mungkin melahirkan generasi yang cerdas dalam melanjutkan roda pembangunan di sebuah daerah.

“Tidak mungkin sebuah generasi cerdas bisa lahir dalam kondisi perut kosong atau dalam keadaan pangan yang tidak cukup. Untuk itu saat ini semua masyarakat harus bekerja. Semua potensi harus dikelola secara maksimal baik yang ada di darat maupun di laut. Saatnya Sabu Raijua bekerja dan jadikan Sabu Raijua tiada hari tanpa bekerja” tegasnya.

Dia menegaskan, saat ini bukan waktunya untuk bekerja sendiri-sendiri. Masyarakat Sabu Raijua harus bekerja secara berkelompok dan bergotong royong sehingga mampu mengolah lahan dalam cakupan yang luas dan besar. Dengan demikian bisa menghasilkan pangan dalam jumlah yang besar pula.

“Untuk itu kita mengucapkan terimakasih kepada teman-teman dari Undana yang telah memperkenalkan IPAB-BO bagi petani di Sabu Raijua. Kita berharap sistem ini bisa digunakan oleh semua petani di daerah ini,” imbuh Marthen.

Sementara Tim IPAT-BO  NTT, Twen Dami Dato kepada media ini mengatakan Hasil kaji terap intensifikasi padi aerob terkendali dengan berbagai varietas padi dibeberapa Kabupaten mampu menghasilkan padi 10-16 ton per hektar atau naik rata-rata 50-150 persen dibanding dengan sistem konvensional (anaerob).

“Kita sudah menerapkan sistem IPAD-BO ini dibeberapa lokasi di Sabu Raijua dan hasilnya luar biasa. Ini inisiatif saya pribadi dan hasil koordinasi dengan pak Bupati dan Dinas Pertanina,” papar Dosen Fakultas Peternakan Undana ini.

Menurut Twen, metode intensifikasi padi sawah dengan sistem tergenang (anaerob) selama ini tidak saja menyebabkan tak berfungsinya kekuatan biologis tanah,tetapi juga menghambat perkembangan sistem perakaran tanam padi.

”Biota tanah yang aerob tak dapat berkembang dan diperkirakan hanya sekitar 25 persen perakaran tanaman padi yang berkembang optimal, sehingga potensi hasil berbagai varietas padi selama ini hanya 7-8 ton per hektar, sementara dengan IPAT potensinya di atas 20 ton per hektar,” katanya. (ikz/seputarntt.com)

 

Komentar Anda?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here