Kupang,lensantt- Petani NTT jangan hanya menjadi penonton di tengah program pangan pemerintah. Setelah terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Fernando Osorio Soares atau Nando Soares langsung menaruh perhatian pada satu persoalan utama: bagaimana hasil produksi petani bisa terserap pasar dan berujung pada peningkatan kesejahteraan.
Nando terpilih secara aklamasi dalam Musyawarah Daerah (Musda) HKTI NTT yang berlangsung pada Selasa, 15 September 2026.
Mandat tersebut tidak ringan. HKTI NTT dituntut bukan sekadar menjadi wadah berhimpunnya petani, tetapi menjadi kekuatan yang mampu mempertemukan petani dengan kebijakan pemerintah, akses pembiayaan, teknologi, serta pasar.
“Kita akan berupaya agar para petani di NTT bisa semakin makmur dan memiliki akses yang lebih baik terhadap berbagai program serta peluang ekonomi,” ujar Nando usai Musda.
Salah satu peluang yang menurut Nando harus segera ditangkap adalah Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Ia melihat MBG bukan hanya sebagai program pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat, tetapi juga sebagai ruang ekonomi baru yang dapat menyerap produk pertanian lokal.
“Program Makan Bergizi Gratis akan menjadi salah satu program yang bisa menopang para petani di Provinsi NTT, karena hasil pertanian kita dapat diserap untuk memenuhi kebutuhan pangan dalam program tersebut,” jelasnya.
Jangan Produksi Tanpa Pasar
Bagi Nando, persoalan petani tidak berhenti pada bagaimana meningkatkan produksi. Persoalan yang lebih mendasar adalah memastikan hasil produksi tersebut memiliki pasar dan harga yang memberikan keuntungan layak bagi petani.
Sebab, produksi yang meningkat tanpa kepastian pasar justru dapat menjadi persoalan baru ketika harga komoditas jatuh dan petani terpaksa menjual hasil panen dengan harga rendah.
Karena itu, HKTI NTT ke depan akan mendorong penguatan rantai pasok pertanian, sehingga petani memiliki akses yang lebih luas terhadap pasar sekaligus mampu memenuhi kebutuhan pangan dalam berbagai program pemerintah.
“Jangan sampai petani menghasilkan banyak, tetapi kemudian kesulitan menjual hasilnya. Produksi harus dibarengi dengan pasar yang jelas,” tegas Nando.
Ia berharap petani NTT tidak hanya menjadi pemasok bahan mentah. Dalam jangka panjang, petani juga harus didorong untuk mengembangkan produk bernilai tambah sehingga keuntungan ekonomi tidak berhenti pada sektor produksi.
HKTI Harus Hadir di Tengah Petani
Nando menegaskan, HKTI NTT harus turun dari ruang organisasi dan benar-benar hadir di tengah persoalan petani.
Menurut dia, organisasi petani harus mampu menginventarisasi persoalan di setiap daerah dan membawa persoalan tersebut ke meja pemerintah maupun para pemangku kepentingan.
“HKTI harus hadir di tengah petani. Kita tidak ingin organisasi ini hanya ada secara administratif, tetapi harus benar-benar merasakan apa yang menjadi persoalan petani di lapangan,” katanya.
Ia menyebut tantangan pertanian NTT masih cukup besar. Persoalan air, perubahan iklim, sarana produksi, akses modal, teknologi, pemasaran hingga rendahnya nilai tambah komoditas masih menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan secara bersama.
Karena itu, HKTI NTT akan membangun kolaborasi dengan pemerintah daerah, pelaku usaha, lembaga keuangan dan berbagai pihak lainnya.
Petani Makmur, Ekonomi Desa Bergerak
Nando berpandangan bahwa membangun pertanian tidak semata-mata berbicara tentang pangan. Di balik sektor pertanian terdapat ekonomi keluarga, kehidupan desa dan masa depan masyarakat NTT.
Ketika petani memperoleh pendapatan yang layak, daya beli masyarakat meningkat dan roda ekonomi di desa ikut bergerak.
“Kalau petani makmur, desa juga akan bergerak. Karena itu, perjuangan untuk meningkatkan kesejahteraan petani adalah perjuangan untuk meningkatkan ekonomi NTT,” pungkasnya.
Dengan mandat aklamasi tersebut, Nando kini menghadapi pekerjaan besar: menjadikan HKTI NTT bukan sekadar organisasi yang berbicara tentang petani, tetapi organisasi yang ikut membuka jalan agar petani memperoleh pasar, pendapatan dan kehidupan yang lebih sejahtera.(Ikz)

