OELAMASI, Lensantt — Rumah bukan sekadar dinding yang berdiri di atas tanah. Ia adalah tempat manusia menaruh lelah, menyimpan harapan, sekaligus menutup pintu dari panjangnya perjalanan hidup. Bagi para pejuang eks Timor-Timur yang memilih tetap menjadi warga Negara Kesatuan Republik Indonesia, rumah bahkan memiliki makna yang lebih dalam: sebuah tanda bahwa pengabdian dan pilihan mereka tidak dilupakan negara.
Makna itu terasa di Perumahan 2100, Desa Oebola Dalam, Kecamatan Fatuleu, Kabupaten Kupang, Rabu, 19 Agustus 2026. Pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum menyerahkan kunci rumah secara simbolis kepada para penerima manfaat pada tahap kelima sekaligus fase terakhir pembangunan dan penyerahan hunian tersebut.
Pada tahap terakhir ini, sebanyak 645 penerima mendapatkan kunci rumah. Dengan demikian, secara keseluruhan sebanyak 2.100 kepala keluarga telah memperoleh hunian yang dibangun pemerintah.
Bagi warga penerima manfaat, rumah tersebut bukan sekadar bangunan baru. Ia menjadi ruang untuk memulai kembali kehidupan dengan rasa aman setelah melewati perjalanan panjang sebagai bagian dari sejarah Timor-Timur.
Densi Boys, salah seorang penerima manfaat, mengaku bersyukur atas bantuan pemerintah tersebut. Menurutnya, mendapatkan rumah secara cuma-cuma di tengah kondisi ekonomi saat ini merupakan sesuatu yang sangat berarti.
“Saya sebagai penerima sangat bersyukur. Di era sekarang untuk membangun rumah tentu sangat sulit,” katanya.
Ia menilai kondisi rumah yang diterimanya sangat baik, bersih dan nyaman untuk ditempati.
“Saya melihat rumah ini memang layak dihuni,” ujarnya.
Densi juga menegaskan tidak memiliki niat untuk menjual rumah tersebut. Baginya, rumah itu telah menjadi tempat tinggal sekaligus bagian dari kehidupan keluarganya.
“Pastinya saya tidak akan menjual,” tegasnya.
Namun, di balik rasa syukur itu, warga Perumahan 2100 masih menyimpan harapan lain. Mereka berharap pemerintah tidak berhenti pada pembangunan rumah, tetapi juga menghadirkan fasilitas pendukung agar kawasan tersebut tumbuh menjadi permukiman yang benar-benar mandiri.
Kebutuhan terhadap sekolah, fasilitas kesehatan, rumah sakit, akses jalan, serta fasilitas umum lainnya masih menjadi perhatian warga. Kehadiran fasilitas tersebut dinilai penting agar masyarakat tidak harus menempuh perjalanan jauh untuk memperoleh pelayanan dasar.
Hal senada disampaikan Menuel Enriko. Ia menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Kupang dan Kementerian Pekerjaan Umum yang telah memberikan tempat tinggal bagi mereka.
“Saya sangat berterima kasih kepada pemerintah,” katanya.
Sementara itu, Bupati Kupang Yosef Lede memastikan pemerintah daerah akan melanjutkan pembangunan fasilitas pendukung di kawasan tersebut.
Ia berjanji akan membangun sekolah, pasar dan berbagai infrastruktur pendukung lainnya, termasuk peningkatan jalan, drainase, fasilitas umum, fasilitas sosial, jaringan air minum serta berbagai prasarana lainnya.
Menurut Yosef, pembangunan tersebut merupakan bentuk penghargaan dan apresiasi pemerintah terhadap pengabdian serta kontribusi para pejuang Timor-Timur yang memilih tetap berada dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Di sisi lain, perwakilan Kementerian Pekerjaan Umum, Kasubdit Wilayah II Direktorat Pengembangan Kawasan Strategis Ditjen Cipta Karya Bayu Moelantono, menjelaskan masih terdapat pekerjaan administratif yang harus diselesaikan pemerintah terkait status hunian dan aset negara.
Ia menyebut terdapat 41 unit rumah yang masih membutuhkan penyesuaian administrasi, termasuk proses penerbitan sertifikat baru.
Selain itu, persoalan status aset Barang Milik Negara (BMN) juga menjadi pekerjaan lanjutan pemerintah. Dari total 2.100 unit rumah, Kementerian Pekerjaan Umum baru menyelesaikan serah terima kepada Pemerintah Kabupaten Kupang sebanyak 324 unit, atau sekitar 15,4 persen.
“Ini masih jauh. Masih 15,4 persen dari 2.100 unit. Ini akan menjadi pekerjaan rumah kami untuk melakukan percepatan sehingga seluruhnya bisa menjadi aset Pemerintah Daerah,” jelas Bayu.
Sementara untuk 1.776 unit lainnya atau sekitar 84,5 persen, kementerian akan mengupayakan proses hibah atau serah terima aset dalam waktu dekat.
Langkah tersebut menjadi penting agar keberadaan Perumahan 2100 tidak berhenti sebagai proyek pembangunan semata, melainkan benar-benar menjadi kawasan permukiman yang memiliki kepastian hukum, administrasi dan pengelolaan aset yang jelas.
Pada akhirnya, rumah-rumah di Oebola Dalam bukan hanya menyusun sebuah kawasan baru di atas tanah Kabupaten Kupang. Di balik setiap pintu yang kini dibuka para penerima, ada perjalanan sejarah, pilihan kebangsaan dan harapan tentang masa depan.
Bagi para pejuang eks Tim-Tim, mungkin rumah itu sederhana. Namun ketika seseorang telah melewati perjalanan panjang, tempat untuk berteduh dari panas dan hujan dapat berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih besar: sebuah tanda bahwa negara masih mengingat mereka.
Penyerahan kunci dan sertifikat tanah secara simbolis dilakukan Bupati Kupang Yosef Lede bersama perwakilan Kementerian Pekerjaan Umum Bayu Moelantono kepada warga eks pejuang Timor-Timur di Desa Oebola Dalam, Kecamatan Fatuleu, Kabupaten Kupang. (Ikz)

