Foto : Namah Benu ( Raja Suku Boti) dan Kedua Adik
Soe, lensantt.com- Boti Satu nama Desa di Kabupaten TTS yang begitu familiar. Suku yang masih kental dengan ajaran kerajaan sering menjadi incaran para wisatawan.
Foto : Namah
Benu ( Raja Suku Boti) dan Kedua Adik
Hal itu disebabkan adat istiadat yang sangat unik. Terungkap ketika Sole Benu salah satu keturunan  suku Boti kepada media lensantt.com pada Rabu (28/04/2021)  di kedimannya di seputaran Desa Tuasene berkisah.
Menurut dia, Suku Boti membagi para  pencuri dalam dua macam yakni,  Pencuri besar dan pencuri kecil.
Para pencuri yang masuk dalam kategori besar akan diasungkan ( Keluar dari desa Boti).
Sedangkan, pencuri kategori kecil tidak akan dihukum melainkan sebaliknya mereka ( pencuri kategori kecil) akan dinafkahi.
“Jika ada warga yang pencuri atau merampok itu pencuri besar dan raja boti akan asingkan pelaku dari kampung boti dan tidak akan kembali lagi ke Desa Boti,” Ujarnya
“Desa Boti di Nusa Tenggara Timur memiliki adat hukum yang unik dan penuh dengan ajaran kebaikan. Salah satunya, aturan tidak menghukum maling, tetapi menafkahinya,” tambahnya.
Menurut da, Masyrakat Boti berpikir jika menghukum para pencuri maka mereka akan terus melakukan hal yang sama jika barang hasil curian sudah habis terpakai.
 Untuk itu, menafkahi para pencuri solusi terbaik. Cara menafkahinya adalah mengumpulkan barang-barang dari seluruh kepala keluarga yang berada di Desa Boti untuk diberikan kepada si pencuri.
Jika pelaku pencurian, mengambil hasil kebun seperti pisang, kelapa dan lain-lain. Solusi yang dilakukan adalah dengan mengajak seluruh kepala keluarga untuk menanam pisang atau kelapa kepada si pencuri sesuai kebutuhannya.
Cara masyarakat Boti memperlakukan alam juga tergolong unik. Jika mereka menebang salah satu pohon maka mereka harus menggantinya dengan menanam 5 sampai 10 pohon.
Tidak berhenti di situ ada hal unik yang dilakukan Suku ini,  masyarakat Boti juga sering mencuci rambut ( Keramas)  bukan dengan shampo seperti yang dilakukan oleh orang-orang kota tapi masyarakat di sana dengan menggunakan tanah liat.
Ada aturan bagi Anak-anak adat di lingkungan sonaf (kerajaan). Sebagian diperbolehkan untuk bersekolah, sedangkan sebagiannya lagi tidak diperbolehkan demi menjaga dan meneruskan tradisi serta adat dari suku Boti ini.
Sehingga, anak-anak yang tidak bersekolah di Desa Boti ini setiap hari diajarkan untuk memenuhi kebutuhan sandang, dan papan seperti bercocok tanam, membuat minyak kelapa,  memanen dan memintal kapas untuk menenun dan lain-lain.
Untuk diketahui, Desa Boti terletak di Kecamatan Ki’e, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Sebagai kerajaan terakhir yang terdapat di Pulau Timor yang masih tetap bertahan sampai saat ini, desa adat ini dipimpin oleh seorang usif (raja, pemimpin adat sekaligus pemimpin spiritual) bernama usif Namah Benu. Masyarakat Di Desa Boti sampai saat ini masih menganut agama nenek moyang atau yang biasa disebut ‘Halaika’.
Tidaklah heran jika masyrakat Boti masih memegang dan meneruskan tradisi serta adat dari nenek moyang, salah satunya mereka tidak pernah menghukum para pencuri, tapi malah membantu atau menafkahi.
Penulis      :   Erick hello,
Editor         : izak kaesmetan.
Baca Juga :  Program PfR Jangkau 10 ribu Warga NTT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here