Kupang,lenantt – Keputusan mengejutkan datang dari Chetryn Peto, sosok muda Nusa Tenggara Timur yang selama ini dikenal aktif dalam kegiatan keagamaan Katolik. Dalam sebuah pernyataan terbuka, adik Betranf peto ini mengungkapkan bahwa dirinya kini resmi berpindah keyakinan dari Katolik ke Protestan.
Langkah ini sontak menjadi perhatian publik, terutama karena latar belakangnya yang selama ini erat dengan tradisi Katolik. Meski begitu, Chetryn menegaskan bahwa keputusannya lahir dari perjalanan rohani yang panjang dan penuh pertimbangan.
Keputusan pindah Aliran ditunjukan Chetriyn Peto saat membacakan surat pernyataan Pindah aliran dari Khatolik ke Protestan pada Minggu, 24 Agustus 2025 di Gereja anak sulung Sikumana.
Perjalanan Iman yang Tidak Mudah
Dalam keterangannya, Chetryn menuturkan bahwa proses ini bukanlah sesuatu yang instan. Ada pergumulan batin dan doa yang mendalam sebelum akhirnya ia mengambil keputusan.
“Ini bukan perkara mudah. Saya lahir dan besar dalam keluarga Katolik, tetapi dalam perjalanan hidup saya, ada banyak hal yang membuat saya semakin mantap untuk memilih jalur Protestan. Saya yakin inilah jalan terbaik bagi pertumbuhan iman saya,” ungkapnya.
Chetryn juga menekankan bahwa pindah aliran bukan berarti ia menolak atau menentang ajaran Katolik, melainkan lebih kepada dorongan hati untuk mendekatkan diri kepada Tuhan sesuai keyakinan yang dirasakannya.
Kebebasan Beragama di Indonesia
Fenomena perpindahan aliran dalam agama bukan hal baru di Indonesia. Kebebasan beragama dan berkeyakinan dijamin dalam Undang-Undang Dasar 1945, sehingga setiap warga negara memiliki hak penuh untuk menentukan keyakinannya tanpa ada paksaan.
Para pengamat sosial menyebut bahwa kasus Chetryn Peto menjadi salah satu contoh bagaimana generasi muda semakin berani mengekspresikan pilihan iman mereka secara terbuka. Hal ini sekaligus menjadi refleksi bahwa keberagaman dalam beragama adalah bagian dari realitas masyarakat Indonesia.
Harapan ke Depan
Chetryn berharap keputusannya ini dapat diterima dengan lapang dada oleh masyarakat. Ia juga berpesan agar perbedaan iman tidak menjadi penghalang dalam menjalin persaudaraan.
“Bagi saya, iman adalah soal hubungan pribadi dengan Tuhan. Meski berbeda jalan, saya percaya kita semua tetap bersaudara,” tutup Chetryn.
Dengan langkah baru ini, Chetryn Peto menambah daftar figur muda dari NTT yang berani menegaskan sikap dalam hal keyakinan. Perpindahannya dari Katolik ke Protestan diharapkan menjadi inspirasi bagi banyak orang untuk semakin dewasa dalam menghargai perbedaan iman di tengah masyarakat yang majemuk.
Ikut Calon Suami
Keputusan pindah aliran Chetrin karena dirinya mengikuti calon suami Sandi Uly yang adalah seorang Brimob.
Pergumulan Panjang Sebelum Keputusan
Meski terlihat sederhana, proses untuk sampai pada keputusan ini tidak mudah. Chetryn mengaku sempat mengalami pergulatan batin yang cukup berat karena sejak kecil ia dibesarkan dalam tradisi Katolik. Namun, dorongan hati serta diskusi mendalam dengan keluarga dan calon suaminya membuat langkah ini semakin mantap.
“Ini memang bukan hal yang mudah. Saya lahir dan besar dalam keluarga Katolik, tetapi saya percaya bahwa pernikahan bukan hanya soal cinta, melainkan juga soal menyatukan iman,” tambahnya.
Kebebasan Beragama Dijamin Konstitusi
Indonesia menjamin kebebasan beragama dan berkeyakinan bagi setiap warganya. Dalam konteks ini, langkah Chetryn Peto merupakan bagian dari hak pribadi yang tidak bisa diganggu gugat. Meski demikian, publik tetap diingatkan untuk saling menghormati perbedaan dan tidak menjadikan pilihan tersebut sebagai bahan perpecahan.
Harapan Chetryn
Chetryn berharap keputusannya mengikuti calon suami pindah agama tidak dipandang negatif. Ia menekankan bahwa perbedaan seharusnya tidak menghalangi persaudaraan di tengah masyarakat yang majemuk.
“Saya tetap menghormati semua keluarga, sahabat, dan saudara yang beragama Katolik. Pilihan ini adalah jalan saya untuk menjalani hidup berumah tangga dengan tenang dan penuh kesatuan iman,” tutup Chetryn.
Dengan langkahnya ini, Chetryn Peto menambah daftar figur muda NTT yang berani secara terbuka menegaskan pilihan iman, meski harus meninggalkan tradisi yang telah lama dianut.(Ikz)

