Kupang, lensantt — Suasana hangat terlihat di Kantor Gubernur Nusa Tenggara Timur, Jumat (10 April 2026). Gubernur NTT, Melki Laka Lena, kembali bertemu dengan Simon Petrus Kamlasi. Pertemuan dua figur yang pernah berhadapan dalam kontestasi Pilgub NTT 2024 itu berlangsung cair, jauh dari kesan rivalitas.
Tak ada lagi sekat politik yang terasa. Senyum dan senda gurau mengalir begitu saja, memperlihatkan kedekatan layaknya sahabat lama. Padahal, keduanya pernah berdiri di kubu yang berseberangan dalam pertarungan politik yang cukup menyita perhatian publik NTT.
Momen ini seakan menegaskan satu hal: politik hanyalah bagian dari proses, sementara kebersamaan dan semangat membangun daerah jauh lebih utama. Di ruang yang sama, dua tokoh muda NTT itu menunjukkan bahwa perbedaan pilihan tidak harus berujung pada perpecahan.
Pertemuan tersebut juga memberi pesan kuat kepada masyarakat bahwa para pemimpin daerah mampu menempatkan kepentingan publik di atas kepentingan politik sesaat. NTT, dengan segala tantangan pembangunannya, membutuhkan kolaborasi, bukan sekadar kompetisi.
Kemungkinan Berpasangan
Meski dinamika politik ke depan masih panjang, bukan hal yang mustahil jika Melki Laka Lena dan Simon Petrus Kamlasi suatu saat berada dalam satu barisan. Politik dikenal dinamis—konstelasi bisa berubah seiring waktu dan kepentingan.
Jika skenario itu terjadi, duet keduanya tentu akan menjadi kekuatan politik yang patut diperhitungkan. Pengalaman, jaringan, dan basis dukungan yang dimiliki masing-masing dapat menjadi modal besar dalam membangun NTT ke arah yang lebih baik.
Namun, untuk saat ini, fokus keduanya tampak jelas: membangun NTT. Pertemuan itu bukan tentang masa lalu, melainkan tentang masa depan—tentang bagaimana membawa Nusa Tenggara Timur menuju kemajuan yang lebih nyata.
Di atas segala perbedaan, mereka tampaknya memiliki satu mimpi yang sama: NTT yang lebih sejahtera.(***)

