Beranda Nasional Celoteh Pendeta Di Raijua Soal Covid-19 Dan HIV Dan AIDS

Celoteh Pendeta Di Raijua Soal Covid-19 Dan HIV Dan AIDS

Seba,lensantt.com Penyebaran Covid-19 membuat masyarakat bingung bercampur takut. Semua elemen dihimbau untuk memerangi virus mematikan ini.
Tidak terkecuali lembaga keagamaan karena para pemuka agama juga punya peran penting membantu pemerintah menekan peningkatan Covid-19.
Selain himbauan, para pemuka agama ini punya cara dan pandangan tersendiri soal Covid-19 juga HIV Dan AIDS.
Salah satunya Pdt. Daniel Hendrik S.Th yang yang blak-blakan soal peran gereja melawan covid-19.

Pdt.Daniel Hendrik S.Th

Kepada media ini Rabu ( 17/06/2020) Dany mengatakan,  Dalam perspektif Kristen terkait kebencanaan, ada beberapa titik penting. Misalnya bencana dapat dimaknai sebagai hukuman atas pola laku manusia yang abai terhadap keseimbangan relasional antar sesama ciptaan, maupun sikap abai atas kehendak Tuhan.
Ketua Majelias Pulau Patmos Tulaika Sabu Barat ini mengatakan, kejadian ini bisa juga dipahami sebagai peringatan, supaya ada pertobatan dan perubahan pola perilaku yang keliru.
Ketua Forum Komunikasi Intern Kristen Kabupaten Sabu Raijua ini menuturkan, Dalam hal ini bencana (apapun bentuknya) bisa menjadi media dan titikbalik perubahan pola hidup.
Ia menjelaskan, baik Covid maupun HIV/AIDS, rasanya tidak ada beda selain identitas, objek, dan daya serang virus yang berbeda.
Pasalnya,  kedua penyakit ini dapat dialami oleh siapapun. Selain faktor-faktor pendukung lain, upaya preventif paling ampuh adalah membangun pola hidup yang sehat. Benar bahwa semua orang bisa terserang dua penyakit ini. Tapi pada saat yang sama, semua orang juga bisa menghindari dua penyakit ini.
Gereja menurut dia, memiliki tanggungjawab sosial Gereja memberi perhatian serius bagaimana memelihara hidup dan merayakan hidup. Untuk itu, terkait Covid-19, lewat semua sumber yang bisa dijadikan rujukan, gereja memberi perhatian serius terkait upaya-upaya memutus rantai penyebaran virus sebagai bagian dari wajah kemiteraan gereja dan pemerintah. Salah satu kebijakan penting adalah ketaatan terhadap protokol kesehatan.Secara kelembagaan lewat kebijakan-kebijakan (SOP-SOP) untuk dipedomani, termasuk penaatan metode pelayanan dalam situasi pandemi. Himbauan-himbauan untuk mengedukasi anggota jemaat terkait protokol kesehatan pun menjadi agenda rutin dengan memanfaatkan media-media sosial yang ada. Termasuk himbauan untuk pelaksanaan kebaktian minggu di rumah.
Kepedulian itu lanjut dia, masih terus berlangsung. Ia mengatakan, Minggu kemarin (14 Juni) ketika diberi kesempatan untuk berbakti di gedung gereja, pemberlakuan protokol kesehatan diberi perhatian serius. Bahkan menjadi komitmen setiap pelaku pelayanan dan anggota jemaat.
” Himbaun GMIT jelas Bahwa ada kelonggaran untuk bisa berbakti di gedung gereja, silahkan dimanfaatkan, tapi disesuaikan dengan kondisi masing-masing wilayah pelayanan terkait penyebaran Covid-19″ kata dia.
Sebagai tindak lanjut menjalani new normal, GMIT memberi perhatian serius. Tidak hanya penyesuaian nilai-nilai hidup di new normal yang wajib dijalankan. Tetapi lebih dari itu, menjadi sesama dalam rasa dan aksi bagi mereka yang terpapar juga menjadi himbauan penting dari GMIT. Mereka tidak boleh dijauhi. Mereka adalah sesama yang butuh pendampingan dan dukungan sebagai bagian dari proses pemulihan.
Menurut dia, pada prinsipnya sikap gereja sama Penderitaan yang dialami bukan aib dan kemudian dihindari. Mereka adalah orang-orang yang bergumul dengan apa yang dialami yang sangat membutuhkan dukungan. Menghindari dan mengucilkan bukan sikap yang tepat. Merangkul mereka dalam rasa dan aksi menunjukkan tingkat iman dan kemanusiaan kita.
“,Aksi komunitas ODHA merupakan sebuah fakta bahwa semua orang terdampak Covid, dan semua orang juga bisa melakukan sesuatu. Aksi yang dilakukan merupakan sebuah proklamasi yang jelas bahwa stigma buruk yang dilekatkan pada seseorang karena penyakit yang diderita adalah sebuah kesalahan. Aksi itu membuktikan bahwa sisi-sisi kemanusiaan tidak hilang, bahkan ketika sakit sekalipun. Maka hargailah kemanusiaan seseorang, bagaimanapun keadaannya.” Tegasnya. (Ikz)
Baca Juga :  Jumlah ODP Di NTT Capai 460 Orang, 49 Orang  Dinyatakan Sembuh
Izack Kaesmetan
Owner & Jurnalist LENSANTT.COM, Anggota DPD HPSI NTT.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Must Read

Juara Kontes Sapi, Bupati TTS Minta Warga Contohi Bambang Sianto

Soe, lensantt.com- Kamis 16 juli 2020, bertempat di Lalip, Desa Benlutu, Kecamatan Batuputih B Bupati TTS Egusem Pieter Tahun menyerahkan Hadiah kepada Bambang Sianto karena berhasil...

Soal Aksara, Dirut Politani Kupang : Jangan Takut Anggaran Sudah Diusulkan Ke Kemendikbud

Kupang,lensantt.com- Politani Negeri Kupang terus melebarkan sayapnya di seluruh kabupaten di Provinsi NTT. Salah satunnya di Kabupaten Sabu Raijua Yakni, Akademi Sabu Raijua yang dikenal...

Peringati HAN, Siswa SMAN 8 Kupang Ini Gelar Lomba Solo Virtual 

Kupang,lensantt.com- Kaula Muda Kota Kupang semakin berkreasi. Banyak Kegiatan-kegiatan positif pun dilakukan. Salah satunya, Putra Alva Niveberi Bengu yang menggelar lomba solo virtual untuk anak...

Jelang Hari Bakti Adhyaksa, Kejati NTT Bagi 1026 Paket Sembako

Kupang, lensantt.com - Rabu (15/7/2020) Kejaksaan Tinggi (NTT) menggelar kegiatan bakti sosial (Baksos) dengan berbagi kasih dengan tiga panti asuhan dan penyandang tuna netra. Kegiatan...

Disebut Terima 1,5 M, Absalom Sine Bakal Polisikan Pengacara Tersangka Bank NTT 

Kupang, Lensantt.com - Perseteruan antara Hairudin Masaro selaku kuasa hukum Muhamad Ruslan tersangka kasus dugaan korupsi Kredit Modal Kerja dan Investasi Jangka Panjang pada...