Lensantt.com – Menteri Endang Rahayu Sedyaningsih bertahun-tahun melakukan observasi dan membantu para pekerja seks komersial di lokalisasi Kramat Tunggak, Jakarta.

Terselip sebuah kisah haru di lorong-lorong sempit Kramat Tunggak. Persahabatan seorang dokter bernama Endang dan pelacur bernama Alia.
Selain berprofesi sebagai PSK, Alia juga pecandu obat-obatan terlarang. Alia juga senang menyilet tangannya sendiri.

Mereka pertama kali berkenalan di pos kesehatan Kramat Tunggak.
“Saya tertarik melihat tubuhnya yang besar dan tegap. Kulitnya gelap, rambutnya selalu dikeriting. Sikapnya diam, tenang dan sangar. Kedua lengannya tampak penuh bekas luka iris yang sudah memarut,” cerita Endang dalam buku ‘Perempuan-perempuan Kramat Tunggak’.

Alia memerlukan pengobatan khusus. Karena itu Endang berkali-kali membawanya ke rumah sakit. Sejak itulah persahabatan keduanya
terjalin.

Alia jarang sekali bicara. Tapi dia selalu mengikuti kemana Endang pergi di lokalisasi itu. Alia dengan setia menunggui Endang melakukan
wawancara dengan penghuni lokalisasi lain.

Baca Juga :  YOGA Paket Kepercayaan Rakyat Matim Oleh : GasparTanjak

Dengan segala keterbatasannya, Alia selalu berusaha membantu Endang. Hingga Alia disangka asisten Endang.

“Penerimaan Alia yang tulus membuat saya merasa aman di sampingnya. Sering-sering bila saya merasa lelah berhadapan dengan cerita-cerita yang menyesakkan dada, saya singgah dulu di kamarnya.

Alia selalu senang melihat saya,” kata Endang.Alia juga sempat mentraktir Endang makan ikan bakar dan kerang di sebuah warung kumuh di dekat Kramat Tunggak. Alia juga berniat membelikan Endang kelengkeng di Pasar Koja. Alia tahu Endang senang kelengkeng.

“Ternyata harganya mahal. Alia tampak mengeluarkan uang sepuluh ribuannya yang terakhir. Perlahan-lahan dia bertanya apakah saya mau membeli buah-buahan lain. Saya sangat terharu. Saya tahu dia tidak akan sanggup mentraktir lagi hari itu,” kenang Endang dalam bukunya.

Endang kemudian harus berangkat ke Amerika Serikat untuk meneruskan studinya. Keduanya pun berpisah. Mata Alia berkaca-kaca. Dia sedih harus kehilangan sahabat baiknya. Endang mengibaratkan persahabatannya seperti dua kapal yang berpapasan di malam kelam.

Baca Juga :  Kampanye Pemilu: Sosialisasi, Pencitraan dan Pendidikan Politik

“Kami berpelukan sejenak dan berpisah. Kapal kami kembali mencari arah masing-masing di kehidupan,” kata Endang.

Sebelum Endang berangkat, Alia menelepon Endang dari rumah saudaranya di Bogor. Dia berencana insyaf dari dunia malam. Endang mengundang Alia ke rumahnya, tapi Alia tidak pernah datang. Alia pun tidak pernah menyurati Endang.

Setahun setelah Endang kembali dari Amerika, dia mencoba mencari Alia. Tidak ada Alia di sana, keberadaan Alia tidak pernah diketahui lagi.

“Benarkah dia pulang kampung? Atau pindah ke pelacuran di kota lain. Ataukah tetap di Kramat Tunggak dengan nama lain? Mungkin saya tidak akan pernah tahu jawabannya,” ujar Endang.

Endang tutup usia hari ini. Jika Alia masih hidup, tentunya dia mengetahui kabar ini dari televisi. Mungkin Alia akan mengingat sosok wanita berani yang dikenalnya lebih dari sepuluh tahun lalu. [ian]

Sumber : merdeka.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here