Lensa NTT

Setiap Tahun Warga NTT Beli Pinang dari Luar Senilai Rp1 Triliun

Kupang,lensantt – Kebutuhan pinang di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) setiap tahunnya mencapai angka yang sangat besar. Pemerintah Provinsi NTT mengungkapkan bahwa warga NTT menghabiskan sekitar Rp1 triliun per tahun untuk membeli pinang yang didatangkan dari luar daerah.

 

Gubernur NTT Melkiades Laka Lena menyampaikan bahwa hingga saat ini produksi pinang lokal belum mampu memenuhi kebutuhan masyarakat. Akibatnya, sebagian besar pinang yang beredar di pasar-pasar NTT berasal dari daerah lain, terutama dari Provinsi Jambi.

“Setiap tahun sekitar Rp700 miliar pinang didatangkan dari Jambi, dan sisanya dari daerah lain di luar NTT. Totalnya mencapai kurang lebih Rp1 triliun,” ungkap Gubernur dalam sebuah kesempatan.

 

Tingginya konsumsi pinang di NTT tidak terlepas dari kuatnya budaya mengunyah sirih dan pinang yang telah menjadi bagian dari kehidupan sosial dan adat istiadat masyarakat. Pinang digunakan dalam berbagai aktivitas, mulai dari konsumsi harian hingga upacara adat dan penyambutan tamu.

 

Meski memiliki potensi lahan yang luas dan kondisi alam yang mendukung, pengembangan budidaya pinang di NTT dinilai belum optimal. Selama ini, pinang lebih banyak tumbuh secara alami dan belum dikelola sebagai komoditas unggulan oleh petani.

 

Pemerintah Provinsi NTT mendorong agar pinang ke depan dapat dikembangkan secara serius melalui penyediaan bibit unggul, pendampingan petani, serta penguatan rantai pemasaran. Langkah ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada pinang dari luar daerah sekaligus meningkatkan pendapatan petani lokal.

 

“Kalau kita bisa produksi sendiri, uang Rp1 triliun itu bisa berputar di NTT dan menyejahterakan masyarakat,” tegas Gubernur.

 

Pengembangan pinang dinilai sebagai peluang besar bagi sektor pertanian NTT, sekaligus upaya memperkuat kemandirian ekonomi daerah berbasis potensi lokal (***)

Komentar Anda?

Exit mobile version