NTT menjadi salah satu Provinisi yang belum terdampak virus berbahaya ini Rasa was-was tentunya menyeiimuti Karantina Pertanian Kelas I Provinsi NTT yang punya diomain lakkuan pencegahan.
Karena, jika virus ini berhasil masuk ke Provinsi NTT pastinya ada dampak negatif untuk rakyat NTT.
Sebagai “Palang Pintu” Karantina pertanian kelas I NTT tentunya tidak akan berpangku tangan karena ada ratusan bahkan ribuan warga NTT akan mersakan dampak ini khususnya ekonimi mereka.
Bayangkan saja, jika hewan seperti, Sapi, babi dan hewan lainnya musnah sesaat bagaimana dengan penjual dariamana medaparkan uang untuk mendapatkan uang demi mempertahankan hidup.
Melihar dampak PMK yang begitu ganas Karantina Hewan Provinsi NTT bergeliat tak kenal waktu agar virus PMK tidak sampai ke Provinsi NTT.
Peluh keringat pimpinan dan para staf harus menetes demi sebuah kenyamanan.Dalam, Pikiran mereka NTT harus aman.
Dari batas Kota maupun batas Provinsi mereka datangi hanya sekedar mengingatkan hati-hati dengan virus PMK itulah yang disebut tanggung jawab.
Dalam rangka mencegah masuknya Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada hewan di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Karantina Pertanian Kupang Ketat melakukan pengawasan terhadap alat angkut baik udara maupun laut dari luar NTT.
Selain itu melakukan pengawasan yang ketat di perbatasan darat antar Negara.
Hal ini disampaikan Kepala Balai Karantina Pertanian Kelas I Kupang, DRH. Yulius Umbu Hunggar kepada Media ini, Senin (18/07/2022).

Dirinya menambahkan selama ini Balai Karantina Pertanian Kelas I Kupang sudah banyak berhasil mencegah masuknya produk atau hewan yang rentan PMK di Provinsi NTT.
Selain ketat melakukan pengawasan, Balai Karantina Pertanian Kelas I Kupang juga bekerja sama dengan lintas instansi yang tergabung dalam gugus tugas, aktif melakukan penyuluhan kepada masyarakat terkait pencegahan PMK, jelasnya.
“Tidak hanya sekedar memberikan penyuluhan dalam mencegah masuknya PMK di NTT, Balai Karantina Pertanian Kelas I Kupang juga sering berkoordinasi dengan TNI dan Polri dalam melakukan Operasi ‘Patuh Bersama’, di kapal-kapal penumpang yang besar,” tutur Yulius Umbu Hunggar.
Pada kesempatan ini dirinya mengharapkan agar masyarakat jangan pernah memasukkan hewan yang rentan PMK, seperti daging sapi dan daging babi di Provinsi NTT, tandasnya.
Diakhir wawancara, Kepala Balai Karantina Pertanian Kelas I Kupang, DRH. Yulius Umbu Hunggar menjelaskan pula bahwa PMK juga memberikan efek terhadap roda perekonomian. Hal ini dikarenakan apabila terserang PMK hewan seperti sapi atau babi berat badannya akan menurun dan tingkat produksi nya juga semakin rendah atau tidak maksimal lagi. (Ikz/***)
