Lensa NTT

Menakar Komitmen Nahason Hariandja, Kasatker O.P BBWS NTT II: Bekerja dalam Diam, Berdampak dalam Nyata

Kupang, Lensantt — Dalam dunia kerja, tidak semua pengabdian membutuhkan panggung. Ada kerja yang tumbuh dalam sunyi, tetapi jejaknya perlahan terlihat di tengah masyarakat. Prinsip semacam itulah yang tampaknya melekat pada sosok Nahason Hariandja, Kasatker Operasi dan Pemeliharaan (O&P) BBWS NTT II.

 

Namanya mungkin belum terlalu sering menghiasi pemberitaan. Namun, bagi mereka yang mengikuti dinamika pekerjaan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) NTT II, Nahason dikenal sebagai salah satu figur yang berada di balik sejumlah pekerjaan teknis di lapangan.

 

Kehadirannya di Provinsi Nusa Tenggara Timur bukan semata-mata menjalankan tugas administratif. Lebih dari itu, ada komitmen untuk memastikan berbagai infrastruktur sumber daya air tetap berfungsi dan memberi manfaat bagi masyarakat.

 

Filsafat sederhana mengatakan, nilai sebuah kerja tidak selalu ditentukan oleh seberapa sering ia terlihat, tetapi oleh seberapa besar manfaat yang ditinggalkannya.

 

Prinsip tersebut terasa dalam cara Nahason menjalankan tugasnya.

 

Bekerja dalam diam, tetapi berbicara melalui hasil

 

Komitmen itu disebut telah terlihat sejak 2024. Berbagai pekerjaan di lapangan dilakukan, mulai dari pengerukan, pembuatan bronjong, hingga sejumlah kegiatan operasi dan pemeliharaan lainnya.

Tidak semuanya masuk dalam ruang pemberitaan. Sebagian besar justru berlangsung jauh dari sorotan kamera dan pemberitaan media.

 

Namun, pekerjaan infrastruktur memang memiliki logikanya sendiri.

 

Ia tidak selalu meminta tepuk tangan. Pengerukan sungai, penguatan tebing melalui bronjong, maupun pemeliharaan infrastruktur sumber daya air mungkin terlihat sederhana ketika selesai dikerjakan. Tetapi di balik pekerjaan tersebut terdapat tujuan yang lebih besar: menjaga fungsi infrastruktur dan mengurangi risiko yang dapat merugikan masyarakat.

 

Di titik inilah komitmen seorang pejabat teknis tidak cukup diukur dari kata-kata.

Ia harus dibaca dari konsistensi kerja, keberanian mengambil tanggung jawab, dan kesediaan hadir ketika persoalan berada di lapangan.

Nahason Hariandja tampaknya memilih jalan itu.

 

Tidak banyak bicara, tetapi terus bergerak.

Sebab pada akhirnya, pengabdian bukan tentang seberapa keras seseorang mengatakan dirinya bekerja, melainkan tentang seberapa nyata masyarakat merasakan hasil dari pekerjaan tersebut.

NTT adalah wilayah yang memiliki tantangan geografis dan sumber daya air yang tidak sederhana. Karena itu, kerja-kerja operasi dan pemeliharaan bukan sekadar rutinitas birokrasi. Ia merupakan bagian dari upaya menjaga keberlanjutan infrastruktur yang bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat.

 

Dan mungkin, di situlah makna paling sederhana dari sebuah komitmen: tetap bekerja bahkan ketika tidak ada kamera yang merekam.

 

Waktu akan menjadi hakim paling jujur.

Sebab pada akhirnya, jabatan akan berganti, nama akan berlalu, tetapi pekerjaan yang memberi manfaat bagi masyarakat akan meninggalkan jejaknya sendiri.(Ikz)

Komentar Anda?

Exit mobile version