Lebih Dekat Mengenal Bacagub Robert Marut

  • Whatsapp

Kupang,lensantt.com – Satu lagi putra terbaik Provinsi NTT yang berikrar untuk membangun NTT dialah Marsekal Muda TNI (Purn.) Robert Soter Marut (RSM) pria yang lahir di Manggarai, Nusa Tenggara Timur, 22 April 1959. Pria dengan segudang prestasi ini pantas di beri kesempatan untuk menahkodai provinsi NTT.

Berikut  Prestasi Dan Pengalaman Selama Menjadi angota AU :

 

Pria 58 tahun ini, adalah seorang purnawirawan perwira tinggi TNI Angkatan Udara. Robert, merupakan alumnus Akademi Angkatan Udara (AAU) tahun 1982, dan berasal dari kecabangan Korps Teknik, ia telah mengikuti pendidikan Sesko TNI pada tahun 2002.

Jabatan terakhir RSM adalah Pati Mabes TNI AU berdasarkan Surat Keputusan Panglima TNI Nomor Nomor Kep/295/IV/2017, tanggal 25 April 2017, Marsda TNI Robert Soter Marut menjadi Pati Mabes TNI AU (dalam rangka pensiun).

 

Sebelumnya, bersama 4 Pamen di jajaran TNI Angkatan Udara (AU), Marsda TNI Robert Soter Marut dipromosikan  menjadi Staf Khusus Kasau. Penetapan tersebut berdasarkan Surat Keputusan Panglima TNI Nomor Kep/830/X/2016, tanggal 10 Oktober 2016, tentang pemberhentian dari dan pengangkatan dalam jabatan di lingkungan TNI.

Bersama tiga pejabat teras Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU), Robert Maruk dilantik menjadi Kepala Dinas Aeronautika Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (Kadisaeroau).

Kamis, 8 Januari 2015. Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Ida Bagus Putu Dunia, melantik dia di Markas Besar AU Cilangkap, Jakarta Timur. Ia melanjutkan estafet kepemimpinan yang sebelumnya dijabat Marsma TNI Hasan Londang.

RSM, yang sebelumnya menjabat sebagai Kepala Dinas Materiil AU (Kadismatau), segera menghadapi aneka tugas baru. Dalam lingkungan TNI AU, Dinas Aeronautika berperan melakukan pembinaan teknik dan pemeliharaan, serta menyiagakan pesawat tempur, senjata udara dan darat, amunisi, beserta sarana bantuan yang lain.

Marsekal dengan bintang emas satu di pundaknya ini juga berperan melakukan pembinaan profesi personel teknik. Dalam menjalankan tugas ini, Marsma Robert berkedudukan di bawah dan bertanggung jawab kepada KSAU.

 

Lewat tugas ini, Marsma Robert menjadi “otak” di balik kesiapsiagaan seluruh amunisi dan personel pertahanan udara negeri ini, yang tersebar di 39 pangkalan TNI AU. “Hidup tentara itu harus siap berperang, harus siap siaga sepanjang 24 jam,” ujar umat Stasi St Agustinus Halim Perdana Kusuma, Paroki St Antonius Padua Bidaracina, Jakarta Timur ini.

Setiap saat, ia harus melakukan pengawasan terhadap kesiapan pesawat tempur di semua pangkalan. Ia pula yang bertanggungjawab atas layak tidaknya pesawat tempur untuk mengudara. “Saya juga harus memberi pembekalan kepada awak pesawat, agar selalu siaga,” ujar putra pertama dari sepuluh bersaudara ini.

RSM pernah bertanggungjawab menyiagakan pesawat tempur, amunisi, awak pesawat, dan kelayakan terbang pesawat TNI AU. RSM pernah mendapat tugas membuat drone, pesawat nir-awak untuk pertahanan udara.

 

Menjadi astronot

 

Pria yang berulang tahun pada 22 April ini, lahir dan tumbuh dalam keluarga guru. Ayah dan ibundanya seorang pendidik. Maka, pendidikan menjadi hal yang utama dalam keluarganya. Ia menghabiskan masa kanak-kanak seperti anak-anak pada umumnya. Hanya setelah menyelesaikan pendidikan di bangku sekolah dasar, terbersit cita-cita menjadi seorang imam.

 

Ia pun masuk gerbang pendidikan Seminari St Pius XII Kisol, Manggarai Timur, Flores, Nusa Tenggara Timur. Ia ditempa dengan pendidikan yang taat aturan. “Pendidikan di seminari menjadi ladang disiplin bagi saya,” kenangnya ketika ditemui Minggu, 29/3.

 

Tapi rupanya, menjadi imam bukanlah panggilan hidup Robert. Tuhan telah menyediakan ladang lain untuk ia gali. Setelah menamatkan pendidikan di seminari, ia melanjutkan belajar di SMA Swadaya Ruteng, kini menjadi SMA Negeri I Ruteng.

 

Robert amat gemar mengotak-atik mesin. Ia suka membongkar lalu memasang aneka mesin. Maka, ketika sekolah nya mendapat tawaran mengikuti pawai per ingatan Hari Kemerdekaan RI, Robert di dapuk membuat miniatur sebuah roket. Dengan senang hati, Robert merancang dan membuat roket tiruan itu. Bahkan, ia pun berperan sebagai astronot tiruan juga. “Bersama teman-teman, saya membuat sebuah roket,” kisahnya sembari menebar senyum.

Pengalaman membuat roket dan berperan menjadi astronot ini amat membekas dalam benak Robert. Dari situlah terbit cita-cita menjadi prajurit negara. Ia ingin mengabdikan diri menjadi punggawa pertahanan negeri ini.

Maka, setelah menyelesaikan sekolah menengah atas, Robert mendaftarkan diri masuk Akademi Angkatan Bersenjata RI pada 1982. Dari ribuan pendaftar, Robert lulus seleksi.

Sekali melangkah maju, pantang untuk mundur. Itulah komitmen Robert selama menjalani pendidikan kemiliteran. Dengan tekun dan kerja keras, ia melalui aneka pendidikan dan tempaan dunia militer. Bisa jadi, pengalamannya berperan sebagai “astronot-astronotan”, membuat ia memilih Angkatan Udara sebagai ladang pengabdian. Maka ia melanjutkan pendidikan ke Akademi Angkatan Udara (AAU) di Yogyakarta. Kegemaran dengan dunia permesinan, membuat dia memilih bergabung dalam korps teknisi AU. “Saya memang memiliki minat yang kuat dalam dunia permesinan, terutama pesawat. Maka, ketika pimpinan memilih saya untuk mengurus mesin pesawat, saya berusaha belajar dan menjalankan tugas secara maksimal,” ujarnya.

 

Demi negara

 

Kerja keras, komitmen, serta kedisplinan, telah mengantar Marsma Robert me napaki tugas sebagai prajurit negeri ini. Semua itu ia jalani tak semudah mem balikkan telapak tangan. Selalu ada tantangan dan rintangan dalam tapak-tapak perjalanan karirnya di dunia militer. Robert pun terus mengasah dan menempa kemampuan sebagai teknisi pesawat. Karir militernya terus menanjak hingga kemudian diangkat sebagai Kepala Dinas Aeronautika TNI AU. “Pekerjaan sebagai teknisi pesawat itu ada di balik layar, tapi tidak mudah, karena saya harus memastikan sebuah pesawat layak terbang dan aman bagi awak pesawat. Ini berhubungan dengan nyawa manusia. Jika standar operasinal tidak diperhatikan bisa berujung kepada kecelakaan dan kematian awak pesawat,” tegasnya.

Selain menyiagakan pesawat tempur dan amunisi pertahanan udara, ia juga harus menyiapkan pesawat TNI AU jika sewaktu-waktu dibutuhkan. Seperti ketika terjadi kecelakan pesawat penumpang Air Asia QZ 8501 di perairan Selat Kari mata. Dengan sigap, Marsma Robert menyiagakan pesawat TNI AU untuk membantu mengevakuasi jenasah para korban.

 

Kini, ia sedang mengupayakan agar Indonesia memiliki pesawat-pesawat tanpa awak alias drone sebagai alat pertahanan negara. Robert bersama tim aeronautik TNI AU telah mengajukan proposal ke dinas penelitian TNI AU, agar bisa membuat drone di dalam negeri sebagai salah satu sarana pertahanan nasional. Sebenarnya, menurut RS, pesawat tanpa awak atau yang dikenal sebagai drone ini, telah digagas sejak 2009.

Untuk mewujudkan sistem pertahanan udara ini, RSM menggandeng beberapa lembaga pendidikan tinggi, seperti Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya. Tentang drone, Marsma Robert mengatakan, “Semua ini demi pertahanan negara, serta demi kesejahteraan bersama.”

Berikut Profil Singkat Robert Soter Maruk :

Marsekal Muda (Purn) Robert Soter Marut (RSM)

TTL : Manggarai, Flores, 22 April 1959

Istri : Euphemia

Anak : Christophorus Soecaesar M.

Pendidikan:

SD Todo Manggarai, Flores

SMP Seminari St Pius XII Kisol

SMA Negeri 1 Ruteng

Akademi Angkatan Bersenjata RI (Akabri)

Akademi Angkatan Udara Cranfi eld University Inggris

Sekolah Staf dan Komando (Sesko) TNI

National Institue for Defence Studies, Jepang

Jabatan Militer:

Paban III/Aero Slogau

Pati Sahli Kasau Bid. Strahan (2012)

Kadismatau (2013)

Kadisaeroau (2014)

Dankoharmatau (2015)

Staf Khusus Kasau (2016)

Pati Mabes TNI AU (2017)

Tanda Kehormatan:

 

Satyalancana Dharma Dirgantara

Satyalancana Kesetiaan XXIV Tahun

Satyalancana Kesetiaan XVI Tahun

Satyalancana Kesetiaan VIII Tahun

Satyalancana Gerakan Operarasi Militer VII (GOM Aceh)

Satyalancana Seroja (Ikz)

Komentar Anda?

Related posts