Home / Nasional / Pernyataan Soal Media Online, Mikhael Bataona : Karo Humas NTT Wajib Punya Data

Pernyataan Soal Media Online, Mikhael Bataona : Karo Humas NTT Wajib Punya Data

Bagikan Halaman ini

Share Button
[simple-social-share]

Kupang,lensantt.com – Penyataan Karo Humas Soal media online yang dirilis oleh Pos Kupang menuai Kontraversi kali ini datang dari Dosen Fisip Unika Mikhael Rajamuda Batona. Ia menilai, Penyataan Karo Humas Pemprov NTT cacat Pengetahuan (epistemologis).

Karena dari aspek kebenaran, isi pernyataan  dan makna yang muncul akibat interpretasi atas pernyataan tersebut. Terlihat, bahwa sangat dangkal kandungan epistemiknya. Atau  tidak ilmiah dan tidak berbasis data empirik.

“Bagi saya jika dicerna secara mendalam maka pernyataan Karo Humas itu pertama-tama, mengandung cacat  epistemologis yang begitu mendasar,” Kata Bataona Kepada Media ini Via Whatsapp senin (24/06/2019).

Menurut dia, Ketika seorang Karo yang adalah jubir Gubernur mengeluarkan sebuah pernyataan penting keruang publik maka yang harus dia pahami adalah dampaknya. “Seorang karo harusnya memikiran dampak dari pernyataanya,” ujarnya.

Dia menegaskan, pernyataan yang tanpa didukung oleh data empirik atau tidak berdasarkan studi ilmiah dengan indikator yang jelas sumber kebenarannya justru bisa menjadi sumber berita yg menyesatkan publik.

Atau dengan kata lain, pernyataan yang basis argumentasinya dangkal justru bisa berbahaya bagi diskursus yang sehat di ruang publik maya seperti, facebook dann twiter. “Bagi saya, pernyataan tersebut  bisa memancing sesat pikir berjemaah di level publik bahwa media onlien di NTT itu tidak berkualitas,” jelasnya.

Baca Juga :  Aneh!!! Owner Toko NAM Tidak Mengerti Aturan Tenaga Kerja

Padahal, bicara tentang mutu dan kualitas media, itu ada teorinya juga paradigma kajiannya. dengan nama kajian media dn metodologinya bisa kajian framing, analisis isi, kajian analsisis wacana, atau kajian kritis tentang ideologi media.

“Jadi Karo seharusnya melakukan studi dengan perguruan tinggi baru hasilnya diumumkan tentang keberadaan media online di NTT,” Tegasnya.

Untuk, mencegah hoax dan gaduh akibat salah bicara apalagi salah persepsi tentang kinerja perintah adalah tugas karo humas. Ia menambahkan,  Membuang waktu dengan mencari konfrontasi terbuka dengan pekerja media onlie adalah sebuah kekeliruan mendasar.

Ia menuturkan,  Justru media apa pun harus dirangkul dan dijadilan mitra pemerintah. “Saya kira demorkasi yang sehat dn bermutu di NTT justru sngt membutuhkan partisipasi media tanpa adanya hierarki dan diskriminasi terhadap pekerja media dan jenis media,” Katanya.

Dijelakannya, Membuat diskriminasi dan pembedaaan yang tidak adil antara media online dan media mainstream tanpa berbasiskan pad studi ilmiah adalah  pantulan dari mentalitas post-truth.

Ketika seorang pejabat mengatakan, bahwa media online itu beritanya tidak cukup berkualitas tanpa secara bijak berpikir dan menganalisis maslah secara jernih dan fair maka pejabat atau politisi tersebut sedang mengalami sindrom post-truth itu.

Yaitu, sebuah mentalitas yang cenderung emosional dan sllu sengaja memainkan fakta dan data yang salah dengan tujuan untuk memanipulasi opini publik. Padhal, ketika emosi dan kepercayaan pribadi lebih kuat mempengaruhi nalar maka yang akan dipeoduksi oleh nalar adalah kebencian dn sikap irasional atau tidak rasional.

Baca Juga :  FARHAT ABBAS TERSANGKA, INI TANGGAPAN AHOK

“Jadi menurut saya, seharusnya semua pernyataan publik pejabat publik ke ruang publik itu didasarkan pada hasil studi atau riset ilmiah,” pungkasnya.

Artinya bicara soal media online, juga harus basisnya adalah penelitian ilmiah tentang keberadaan media online di NTT. Melakukan evaluasi amatiran yang tidak didukung oleh data-data valid tentang kiprah media online di NTT adalah sama halnya dengan melempar fitnah dan prasangka buruk untuk pembunuhan karakter pekerja media onlie plus memberangus kreatifitas para pekerja media onlie yang sudah cukup lama berkontribusi bagi perkembangan demokrasi dan sukses pemerintahan di level provinsi, negara hingga desa di NTT.

Dalam menyampakan pernytaan,  variabel apa saja yang dipakai untuk mengevaluasi media online? Atau indicator-indikator dari teori dan konsep  ahli atau pakar yang mana yang dipakai sebagai parameter evaluasi berita media online? Jika tidak ada basis metodologi dan epistemik yang jelas dan terukur secara ilmiah maka bisa dikatakan bahwa pernyataan itu cacat secara epistemologis dan destruktif dampaknya bagi publik. (ikz)

 

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button
[simple-social-share]

Terbaru

Komunitas Pecinta Alam Kupang Kibarkan Bendera Raksasa di Puncak Gunung Fatuleu

 Kupang, lensantt.com - Memperingati kemerdekaan di pu...

Sederet Nama Untuk Mabala, Siapa  Yang Pantas?

Kupang,lensantt.com – Tak Lama lagi pemilihan Kepala Da...

Sejahtera Grup Kembali Hadirkan Rumah Mewah Dengan Harga Terjangkau

Kupang, lensantt.com - Sejahtera Grup dibawah pimpinan Bo...

Beri Layanan Hukum Gratis, Kejati NTT Luncurkan Aplikasi Lanaku

 Kupang,lensantt.com - Kejaksaan Tinggi (Kejati) provins...

PKB NTT Dukung Muhaimin Iskandar Pimpin MPR.RI Dan Jadi  Ketua Umum Partai

Kupang, lensantt.com - Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Parta...
error: Tidak boleh di Copas